Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menilai dampaknya terhadap perbaikan status gizi anak penerima manfaat.
Pemerintah menyiapkan mekanisme pemantauan berbasis data untuk mengukur apakah intervensi MBG benar-benar mampu memperbaiki kondisi gizi, terutama bagi anak yang mengalami stunting.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengukuran hasil atau outcome menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, data anak stunting saat ini sudah tersedia secara rinci berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama, dan alamat.
“Status gizi masyarakat harus membaik. Karena itu kami sepakat dengan Kepala BGN melakukan riset terhadap hasil program,” ujar Budi dalam rapat pembahasan MBG, dikutip Rabu, 29 Juli 2026.
Melalui data tersebut, pemerintah akan menandai anak stunting yang menerima MBG maupun yang belum menerima program. Perkembangan kondisi mereka kemudian akan dipantau secara berkala melalui layanan posyandu.
“Setiap bulan mereka ditimbang di posyandu sehingga bisa dipantau apakah berat badannya naik atau tidak. Kalau tidak naik, kita bisa mengetahui penyebabnya,” jelasnya.
Menurut Budi, pemantauan tersebut diperlukan agar pemerintah dapat mengevaluasi kualitas intervensi yang diberikan. Jika hasilnya belum sesuai target, perbaikan menu maupun standar makanan dapat segera dilakukan.
Ia mencontohkan, kondisi anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dapat menjadi indikator perlunya evaluasi terhadap komposisi makanan yang diberikan.
Selain pemantauan melalui posyandu, Kementerian Kesehatan juga mendorong penguatan pemeriksaan kesehatan di sekolah melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Saat ini, pemeriksaan kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah dilakukan satu kali dalam setahun. Pemerintah tengah mengupayakan agar pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dua kali dalam setahun agar ada ruang evaluasi lebih cepat.
“Dengan demikian kita bisa melakukan perbaikan kebijakan berbasis data,” kata Budi.
Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) juga akan menyusun target penerima manfaat dan standar makanan MBG bersama para ahli gizi sebelum 5 Agustus.
Pembahasan tersebut mencakup penentuan sekolah prioritas, kelompok usia yang menjadi sasaran, wilayah dengan angka stunting tinggi, hingga standar kandungan makanan yang diberikan.