Berita

Aktivis Rico Sinaga berdiri di atas mobil rantis Brimob saat peristiwa 27 Juli 1996. (Foto: Istimewa)

Politik

Baju Rico Sinaga Berlumuran Darah saat Evakuasi Korban Kudatuli

SELASA, 28 JULI 2026 | 00:26 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pada Sabtu 27 Juli 1996, Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat diserbu massa berkaus merah. Aparat mengepung lokasi, memblokade pertolongan dari luar, dan membiarkan kekerasan berlangsung hingga kerusuhan meluas ke Cikini dan Megaria.

Dari ribuan massa yang berkumpul di kawasan Cikini dan sekitarnya, salah satunya adalah aktivis Rico Sinaga.

"Saat mendengar kantor PDI diserbu massa, saya langsung bergerak ke lokasi. Saya berdiri di bawah jembatan layang kereta api," kata Rico kepada wartawan, di sebuah kafe di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 27 Juli 2026.


Rico mengenang, sebelum terjadi pernyerbuan yang berujung kerusuhan 27 Juli 2026 atau dikenal sebagai Kudatuli, kantor PDI dijadikan tempat berkumpulnya kader banteng dan aktivis pro demokrasi.

Rico menuturkan, sebelum penyerbuan terjadi, ia bersama sejumlah aktivis rutin berkumpul dan berdiskusi di Pos Perjuangan Demokrasi Indonesia (PPPDI) serta sebuah kafe di kawasan Pegangsaan, Jakarta Pusat.

“Diskusi-diskusi itu memperkuat komitmen kita dalam membela PDI yang saat itu tengah dilanda konflik kepengurusan antara kubu Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi,” kata Rico.

Beberapa hari sebelum 27 Juli 1996, kata Rico, isu penyerbuan terhadap kantor DPP PDI terus beredar. Namun, ancaman tersebut berulang kali tidak terbukti.

Hingga akhirnya pada pagi buta, 27 Juli 1996, kantor DPP PDI benar-benar diserbu massa.

Atas izin aparat kepolisian, setelah penyerbuan mereda, Rico bersama sejumlah aktivis lain, 
kemudian masuk ke dalam kantor DPP PDI yang telah porak-poranda. 

"Kita saksikan langsung kondisi gedung pasca-penyerbuan. Kita tidak melihat mayat seperti isu yang beredar," kata Rico yang merupakan pendukung Anies Baswedan ini.

Rico dan tiga aktivis lainnya kemudian diminta aparat kepolisian naik ke atas mobil rantis Brimob untuk menyampaikan kesaksian soal kondisi kantor DPP PDI pasca penyerbuan.

"Ternyata massa tidak puas dengan kesaksian saya. Saya pun dilempari massa yang marah," kata Rico.

Tak berhenti sampai di situ, Rico mengaku turut mengevakuasi para korban kekerasan saat kerusuhan meluas. 

Menurutnya, banyak aktivis dan massa aksi yang dipukul, diseret, hingga diangkut menggunakan truk aparat. Sebagian bahkan dikejar hingga ke rumah sakit saat berupaya menyelamatkan diri.

"Baju saya sampai banyak darahnya karena menyelamatkan massa," kata Rico. 

Atas jasanya saat peristiwa Kudatuli, Rico Sinaga selaku Ketua Umum Ikatan Pekerja Galian dan Bangunan Indonesia (IKAPERGABIN) mendapatkan penghargaan dan ucapan terima kasih dari DPP PDI yang ditandatangani Megawati Soekarnoputri.

Perjuangan itu berlanjut hingga era Reformasi. Rico Sinaga bersama sejumlah rekannya menjadi bagian dari gerakan politik yang mendukung Megawati Soekarnoputri menuju kursi kepresidenan.

Peristiwa Kudatuli diketahui dipicu oleh dualisme kepemimpinan PDI antara kubu Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi serta intervensi penguasa Orde Baru.
 
Berdasarkan catatan Komnas HAM, sehari setelah terjadinya peristiwa kudatuli, dibawah pimpinan Asmara Nababan dan Baharuddin Lopa, Komnas HAM melakukan investigasi. 

Dalam investigasi tersebut ditemukan adanya indikasi terjadinya pelanggaran HAM yang berat. Tak hanya itu saja. Pada 2003, juga dilakukan penyelidikan lanjutan atas peristiwa kelam dalam sejarah politik Indonesia tersebut.
 
Hasil penyelidikan Komnas HAM menyebut ada lima orang tewas, 149 orang luka, dan 23 orang hilang. Adapun kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp100 miliar akibat dari peristiwa Kudatuli ini.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya