Berita

Gedung Bank Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

INDONIA Melandai ke 6,17 Persen, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Kian Longgar

SABTU, 18 JULI 2026 | 08:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kabar positif datang dari sektor keuangan domestik. Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa ketahanan likuiditas perbankan nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat memadai. 
Kondisi yang solid ini diproyeksikan mampu menyokong fungsi intermediasi serta target penyaluran kredit secara optimal guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Sinyal positif ini salah satunya tecermin dari pergerakan Indonesia Overnight Index Average (INDONIA), yang merupakan suku bunga acuan untuk transaksi antarbank overnight. Sempat menyentuh angka 6,62 persen pada 18 Juni 2026, nilai INDONIA berhasil melandai secara signifikan ke level 6,17 persen pada 16 Juli 2026.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, penurunan angka INDONIA ini mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank. Dampaknya, kebutuhan pendanaan jangka pendek perbankan kini dapat dipenuhi dengan biaya yang jauh lebih rendah.


Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kemampuan perbankan dalam menopang aktivitas pembiayaan tetap kokoh berkat manajemen likuiditas yang terjaga.

“Bank Indonesia memandang ketahanan likuiditas perbankan tetap terjaga untuk mendukung target intermediasi,” kata Destry dalam keterangannya, Jumat, 17 Juli 2026.

Lebih lanjut, Destry menjelaskan bahwa tren penurunan suku bunga antarbank tersebut menunjukkan tekanan permintaan likuiditas yang mulai mereda.

“Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai,” tegasnya.

Kelancaran pasokan likuiditas ini tidak lepas dari langkah taktis bank sentral. BI secara agresif menjalankan strategi ekspansi likuiditas melalui berbagai instrumen moneter strategis, yang meliputi transaksi repo, swap valas, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder

Hingga 16 Juli 2026, total ekspansi likuiditas yang digelontorkan BI melalui operasi moneter tersebut telah menembus angka Rp837,11 triliun. Suntikan likuiditas ini terbukti efektif menopang pertumbuhan uang primer (M0), yang tetap melaju kuat di level dua digit sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga akhir Juni 2026.

Demi memastikan stabilitas ini berkelanjutan, BI aktif menjembatani komunikasi di sektor riil perbankan.

“Bank Indonesia juga terus melakukan komunikasi intensif dengan perbankan agar hambatan distribusi likuiditas antar bank dapat teratasi dengan risiko yang terkelola dengan baik,” ungkap Destry.

Selain membangun komunikasi, BI juga bersinergi dengan asosiasi pasar, industri perbankan, dan otoritas terkait demi menciptakan ekosistem pasar uang yang lebih dalam, likuid, dan efisien. Langkah ini diperkuat dengan pengawasan serta surveilans pasar yang ketat guna memastikan kepatuhan regulasi dan menjaga agar perilaku para pelaku pasar tetap berjalan wajar.

Menatap ke depan, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk terus memantau kecukupan likuiditas perbankan. Langkah antisipatif ini diambil agar transmisi kebijakan moneter tetap efektif dalam mengawal stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong roda ekonomi nasional.

“Strategi ini juga terus diperkuat agar distribusi likuiditas antarbank terjaga baik sehingga dapat mendukung proses pembentukan suku bunga secara efisien dan memperkuat efektivitas kebijakan moneter,” pungkas Destry.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Muktamar NU Turut Gerakan Ekonomi Masyarakat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:22

Puan Anggap Santai Ocehan Budi Arie soal Percepatan Pemilu

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:11

Ada Angka Favorit Prabowo di Balik Muktamar NU

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:09

Bisnis Makin Kompleks, Profesi PPGA Disiapkan untuk Kelola Risiko Kebijakan dan Politik

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

Prabowo Tiba di Lokasi Muktamar ke-35 NU, Disambut Rais 'Aam hingga Gus Yahya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

LKPP 2025 Kembali Raih WTP ke-10 Sejak 2016, Ini Catatan Purbaya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:54

Menkop Ingin Koperasi dan Pariwisata Kerek Ekonomi Daerah

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

IPW Minta Dugaan Penipuan Rp58,5 Miliar Libatkan Perwira Polri Diuji Profesional

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

KPK Panggil Mantan Pj Bupati Muara Enim Hingga Petinggi Swasta di Kasus Suap Edison

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:46

Jangan Sampai UU Perampasan Aset Buka Celah Penyalahgunaan Wewenang

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:43

Selengkapnya