Berita

Ilustrasi. (Dok. Photo made by OpenAI)

Publika

Semifinal Piala Dunia, Iran vs Amerika, Wasitnya Selat Hormuz

SELASA, 14 JULI 2026 | 00:12 WIB

TAK sabaran menunggu semifinal Piala Dunia Prancis vs Spanyol. Tapi sebelum Mbappe dan Merino sempat menyentuh bola, di lapangan sebelah sudah ada laga jauh lebih brutal. Bedanya, tidak ada FIFA, tidak ada VAR, tidak ada kartu kuning. Yang ada cuma kartu menuju bunker.

Kick off dimulai sebelum rumput tumbuh di makam Ali Khamenei. Baru saja prosesi pemakaman selesai, Iran dan Amerika sudah meniup peluit panjang. Skornya belum jelas, tetapi papan statistik penuh ledakan.

Kalau laga Prancis melawan Spanyol memperebutkan tiket final, laga Iran melawan Amerika memperebutkan siapa yang paling keras bilang, "Kami menang!" Padahal penontonnya sudah lama pusing menghitung rudal yang beterbangan.


Wasit pertandingan? Selat Hormuz. Lapangannya? Jalur yang mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap ada pemain terpeleset sedikit, harga minyak langsung salto hingga menyentuh 95 dolar per barel. Bursa saham ikut teriak, sopir truk mendadak rajin berdoa.

Amerika membuka babak pertama. Menurut CENTCOM, mereka melancarkan beberapa ronde serangan udara sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Hormuz. Strateginya seperti Spanyol bermain tiki-taka, hanya saja operannya berupa bom presisi dan GBU-72 bunker buster.

Targetnya? Jangan ditanya. Pangkalan rudal, markas drone, pusat komando, radar pantai, sistem pertahanan udara, peluncur rudal, bandara, runway, Sirik, Qeshm, Bandar Abbas, Bushehr, Konarak, Chabahar, Mahshahr, stasiun pompa air pertanian ikut masuk daftar susunan pemain harus keluar lapangan.

Satu ronde terakhir menghantam sekitar 140 target. Totalnya sudah ratusan sasaran. Kalau statistik ini muncul di layar televisi, komentator sepak bola mungkin pensiun mendadak.

Iran mengumumkan sedikitnya 14 orang tewas dan puluhan luka-luka, termasuk nelayan dan warga sipil. Lagi-lagi, suporter yang bahkan tidak membeli tiket justru paling dulu terkena lemparan.

Babak kedua dimulai. Media Iran, Press TV, Fars News, Mehr, Tasnim, sampai IRIB, langsung berteriak, Amerika melakukan "agresi kriminal" dan melanggar gencatan senjata. IRGC mengklaim pertahanan udara mereka sukses menggagalkan sebagian serangan.

Lalu serangan balik dimulai. IRGC mengirim rudal dan drone ke puluhan hingga 85 pangkalan Amerika di Bahrain, Kuwait, Yordania, bahkan disebut mengarah ke Qatar. Sasarannya radar, helikopter, drone, hingga gudang bahan bakar.

Kalau ini pertandingan sepak bola, komentator pasti berteriak, "Serangan balik cepat!" Masalahnya, bola yang dipakai beratnya satu ton dan meledaknya bisa terdengar lintas provinsi.

Belum puas, Iran mengumumkan Selat Hormuz ditutup total. Ancamannya juga unik. Setiap Amerika mencetak satu gol, Iran berjanji membalas dua gol. Formasinya bukan 4-3-3, melainkan 2 banding 1.

Lucunya, dua kubu sama-sama merasa unggul. Amerika menganggap operasinya sukses. Iran mengklaim lawannya gagal total. Mirip dua suporter sama-sama pulang sambil berteriak, "Kami menang!", padahal skor di stadion belum diumumkan.

Semua ini pecah setelah Memorandum of Understanding Juni 2026 yang ternyata daya tahannya lebih pendek dari baterai remote AC. Pemicunya serangan Iran terhadap kapal berbendera Siprus GFS Galaxy pada 6-7 Juli yang menyebabkan satu awak hilang.

Kini dunia menonton laga paling mahal di bumi. Israel bisa masuk sebagai pemain pengganti. Kelompok-kelompok proksi sudah pemanasan di pinggir lapangan. Ironinya, semua pemimpin masih berkata, "Kami ingin perdamaian."

Kalimat itu terdengar indah. Sama indahnya seperti pemain bola berkata, "Saya tidak mau bikin keributan," sambil menendang lawan, menyikut wasit, membongkar gawang, lalu pulang membawa bola.

Selamat datang di semifinal paling aneh di dunia. Bukan Prancis vs Spanyol, melainkan Amerika vs Iran. Hadiahnya bukan trofi Piala Dunia. Hadiahnya... headline internasional besok pagi.

Ingat laga Prancis vs Spanyol 15 Juli 2026 pukul 02.00 WIB di Dallas Stadium, Amerika Serikat. 

“Kapan berhenti perang Iran vs Amerika, Bang?”

“Selama bisnis mesin perang masih menjanjikan, perang tetap dipelihara, wak” Ups

Rosadi Jamani
Wartawan senior

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya