Berita

Forum Bersama Nahdliyin (Forbes) NU 26 menggelar Rembuk Warga NU se-Jabodetabek Seri 3. (Foto: istimewa)

Politik

Arah Diplomasi PBNU Dinilai Belum Berdampak bagi Nahdliyyin

MINGGU, 12 JULI 2026 | 21:39 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Forum Bersama Nahdliyin (Forbes) NU 26 menggelar Rembuk Warga NU se-Jabodetabek Seri 3 di Setahun Kemarin Coffee, Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, Minggu, 12 Juli 2026.

Mengusung tema "NU di Tengah Badai Dunia Baru: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel", forum tersebut membahas arah diplomasi internasional Nahdlatul Ulama (NU), tata kelola organisasi, hingga posisi NU dalam merespons dinamika geopolitik global.

Diskusi menghadirkan pengamat politik dari The Australian National University, Prof. Greg Fealy, akademisi Prof. Dr. KH. Hanief Saha Ghafur, serta Ketua Program Studi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Robi Sugara.


Dalam paparannya, Greg Fealy menilai sejumlah inisiatif diplomasi internasional yang digagas Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, seperti Religion Twenty (R20) dan Humanitarian Islam, belum memberikan dampak yang signifikan bagi warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.

Menurut Greg, berbagai agenda internasional tersebut perlu diimbangi dengan penguatan basis sosial-keagamaan agar lebih relevan dengan kebutuhan organisasi dan masyarakat.

"Saya menilai tidak banyak karya dari inisiatif-inisiatif diplomatis Gus Yahya, terutama untuk NU. Lebih baik Gus Yahya lebih banyak memperhatikan usaha-usaha yang menitikberatkan pada kepentingan NU," ujarnya.

Greg juga menyoroti penunjukan Holland Taylor sebagai tokoh yang pernah menempati posisi strategis dalam lingkaran PBNU. Menurutnya, langkah tersebut merupakan keputusan yang problematis karena dinilai tidak didukung pemahaman yang memadai mengenai Islam, sejarah Islam Indonesia, maupun perkembangan dunia Islam secara umum.

"Terakhir, peranan Holland Taylor menurut saya sangat problematis (di kepengurusan PBNU). Karena pemahaman beliau tentang Islam, isu Islam, sejarah Islam di Indonesia dan juga dunia sangat tipis," terangnya.

Sementara itu, Dr. Robi Sugara menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi masyarakat sipil, termasuk dalam menjalankan diplomasi internasional. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada pendanaan negara berpotensi memengaruhi kebebasan organisasi dalam menyampaikan sikap terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan isu global.

Di sisi lain, Prof. Dr. KH. Hanief Saha Ghafur menyoroti perlunya penguatan tata kelola organisasi melalui penerapan prinsip good governance, pengawasan internal yang efektif, serta mekanisme perlindungan kelembagaan. Menurutnya, penguatan organisasi dari dalam merupakan prasyarat sebelum NU memperluas perannya di tingkat internasional.

Forum juga membahas isu Palestina dan wacana normalisasi hubungan dengan Israel. Para pembicara berpandangan bahwa NU perlu tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan, keadilan, dan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina sesuai nilai-nilai perjuangan organisasi.

Dalam konteks tersebut, Robi Sugara mengusulkan agar semangat Fatwa Resolusi Jihad dipahami kembali sebagai landasan moral dalam membela kemanusiaan dan menolak segala bentuk penindasan.

Sebagai hasil diskusi, peserta Rembuk Warga NU Seri 3 menyampaikan sembilan rekomendasi kepada PBNU, yaitu:
1. Memperkuat mekanisme pengawasan organisasi untuk mencegah masuknya kepentingan yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai NU.
2. Mengembalikan orientasi organisasi pada khittah Nahdlatul Ulama dan menjaga jarak dari kepentingan politik praktis.
3. Mendorong penguatan kemandirian pembiayaan organisasi guna menjaga independensi kelembagaan.
4. Mengevaluasi model diplomasi internasional agar lebih berbasis kebutuhan warga dan pendekatan people-to-people diplomacy.
5. Mengoptimalkan fungsi Majelis Tahkim dan Dewan Etik dalam penegakan etika organisasi.
6. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas terhadap sumber pendanaan serta program-program kerja sama internasional.
7. Melakukan penguatan tata kelola organisasi berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan musyawarah.
8. Memastikan setiap program strategis memiliki indikator manfaat yang nyata bagi masyarakat.
9. Merevitalisasi sistem kaderisasi untuk memperkuat kapasitas ideologis, intelektual, dan kepemimpinan kader Nahdlatul Ulama.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya