Berita

Bedah buku "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" karya Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat 10 Juli 2026 (Foto: Istimewa)

Politik

Ketum JMSI: Jurnalisme Harus Menempatkan Nilai Kemanusiaan sebagai Fondasi Utama

SABTU, 11 JULI 2026 | 08:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kemanusiaan harus menjadi fondasi utama dalam praktik jurnalisme. Bagi insan pers, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan bukan sekadar pilihan, melainkan prinsip yang harus dijaga dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, saat menjadi pembicara dalam bedah buku "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" karya Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat 10 Juli 2026, 

Diskusi tersebut juga menghadirkan Pemimpin Redaksi CNN Indonesia Titin Rosmasari, Direktur tvMu Dr. Makroen Sanjaya, dan Ketua Lazismu Ahmad Mujadid Rais sebagai pembedah, serta dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Rahmad.


Dalam kesempatan itu, Teguh mengapresiasi peluncuran buku karya Roni Tabroni. Menurutnya, buku tersebut lahir dari kegelisahan terhadap praktik jurnalisme yang dinilai mulai menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan, padahal keduanya tidak dapat dipisahkan.

Dengan gaya bercandanya, Teguh bahkan mengusulkan agar pada cetakan berikutnya ditambahkan kata "memang" pada judul buku sehingga menjadi "Memang Jurnalisme untuk Kemanusiaan".

Menurut Teguh, jurnalisme seharusnya bekerja dari "hulu ke hilir". Artinya, media tidak hanya hadir ketika sebuah persoalan telah menimbulkan korban, tetapi juga berperan mendorong pencegahan melalui pengawasan terhadap kebijakan publik.

"Tidak cukup kita hanya bergerak untuk membantu korban kerusakan lingkungan. Ada hal di hulu yang harus kita lakukan untuk memitigasi jatuhnya korban. Misalnya dengan mengawal kebijakan tata kelola lingkungan sehingga tidak merusak alam dan kebijakan pembangunan tidak malah menciptakan ketimpangan yang ekstrem, yang menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan," ujar Teguh.

Karena itu, ia mengibaratkan jurnalisme tidak hanya berfungsi sebagai "pemadam kebakaran", tetapi juga harus mampu mencegah akar persoalan agar tidak berkembang menjadi krisis kemanusiaan.

Teguh juga menyoroti tantangan jurnalisme di era digital yang kerap terjebak dalam logika algoritma sehingga lebih banyak mengejar isu-isu yang bersifat superfisial. Menurutnya, insan pers perlu memiliki kesadaran kolektif agar tidak menjadi "budak algoritma" yang justru menjauhkan media dari isu-isu kemanusiaan yang lebih substansial.

Di akhir paparannya, Teguh berharap diskusi tersebut menjadi momentum bagi para pengelola media untuk kembali meneguhkan komitmen bahwa jurnalisme pada hakikatnya hadir untuk melayani kemanusiaan.

Sementara itu, Roni Tabroni mengatakan buku "Jurnalisme untuk Kemanusiaan" merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada aspek teoretis. Buku ini lahir dari dua realitas yang berjalan berdampingan, yakni tantangan jurnalisme di era disrupsi digital dan tingginya semangat filantropi masyarakat Indonesia.

"Berangkat dari dua realitas besar yang selama ini berjalan beriringan namun jarang dipertemukan secara sistematis, yakni dunia jurnalisme yang tengah kehilangan relevansi sosialnya di era disrupsi digital, dan Indonesia sebagai negara dengan masyarakat paling dermawan di dunia," ujar pria yang juga adalah Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), dan tetap aktif dalam bidang komunikasi, media, dan kebijakan publik.

Roni menjelaskan, buku tersebut menawarkan paradigma jurnalisme yang tidak hanya melaporkan realitas sosial, tetapi juga berperan sebagai katalisator perubahan. Di dalamnya dibahas berbagai pendekatan konseptual dan panduan praktis, mulai dari framework tiga zona Merah-Kuning-Hijau hingga framework P3 (Penyadaran–Pemberdayaan–Perubahan).

"Buku ini dirancang untuk dapat dipraktikkan oleh lembaga atau individu. Dengan demikian, dapat dijadikan pegangan oleh kalangan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi media, aktivis filantropi, dan konten kreator yang ingin menjadikan karya mereka bukan sekadar produk informasi, melainkan sebuah instrumen perubahan sosial yang nyata," katanya.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya