Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Komunikasi BUMN Era AI: Bukan Kekurangan Data, Tapi Telat Mendengar Publik

JUMAT, 10 JULI 2026 | 00:45 WIB | OLEH: TEUKU GANDAWAN XASIR*

KECERDASAN buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang mengubah wajah komunikasi korporasi. Di Indonesia, lebih dari 230 juta penduduk telah terhubung ke internet dan sekitar 180 juta aktif menggunakan media sosial. Dalam ruang digital yang nyaris tanpa jeda ini, setiap orang bukan lagi sekadar konsumen informasi, tetapi juga produsen opini. Satu unggahan di media sosial, satu video pendek, atau satu pemberitaan media online dapat membentuk persepsi publik dalam hitungan menit. Reputasi perusahaan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak siaran pers diterbitkan, melainkan oleh seberapa cepat organisasi memahami percakapan yang sedang berkembang.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi tersebut, tantangan terbesar komunikasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) justru bukan kekurangan data. Berbagai BUMN telah berinvestasi besar dalam transformasi digital, Big Data Analytics, pusat kendali digital, hingga pemanfaatan AI. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa teknologi canggih belum otomatis menghasilkan komunikasi yang efektif. Organisasi sering kali baru bergerak ketika isu telah viral dan kepercayaan publik mulai terkikis.

Perubahan perilaku publik inilah yang menuntut perubahan paradigma komunikasi. Di era AI, komunikasi tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas menjelaskan kebijakan atau membantah isu. Komunikasi harus menjadi instrumen untuk mendengar, memahami, dan mengantisipasi perubahan persepsi publik sebelum berkembang menjadi krisis reputasi.


Pelajaran penting mengenai perubahan tersebut dapat dilihat dari komunikasi krisis digital PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina Patra Niaga. Ketika dugaan korupsi tata kelola minyak mentah mencuat bersamaan dengan polemik kualitas BBM yang populer dengan istilah "BBM oplosan", ruang digital Indonesia segera dipenuhi berbagai narasi yang berkembang sangat cepat. Pemberitaan media online memperluas jangkauan isu, sementara media sosial mempercepat penyebaran melalui ribuan unggahan, komentar, video, dan diskusi publik.

Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak lagi membedakan secara rinci antara persoalan tata kelola perusahaan dan kualitas produk yang mereka gunakan setiap hari. Di mata publik, keduanya melebur menjadi satu persepsi mengenai integritas perusahaan. Sekali persepsi tersebut terbentuk, pemulihan kepercayaan menjadi jauh lebih sulit dibandingkan menjelaskan aspek teknis persoalan.

Harus diakui, Pertamina Patra Niaga menunjukkan perubahan dibandingkan pola komunikasi krisis pada masa lalu. Perusahaan lebih aktif memanfaatkan media sosial, menghadirkan video edukasi, infografis, serta penjelasan berbasis bukti melalui pengujian kualitas BBM bersama LEMIGAS. Pendekatan evidence-based communication ini merupakan langkah maju karena komunikasi tidak lagi hanya bertumpu pada pernyataan formal, tetapi juga pada pembuktian yang dapat dipahami masyarakat.

Namun, pengalaman tersebut juga memperlihatkan satu pelajaran penting. Data dan fakta saja tidak selalu mampu mengubah persepsi publik. Di era media sosial, satu video pengalaman konsumen dapat memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan puluhan konten resmi perusahaan. Bukan karena masyarakat menolak penjelasan ilmiah, tetapi karena kepercayaan dibangun melalui kombinasi fakta, empati, transparansi, dan kesediaan organisasi untuk mendengar.

Di sinilah kelemahan komunikasi banyak organisasi, termasuk sebagian BUMN, masih terlihat. Respons komunikasi umumnya masih bersifat reaktif. Organisasi menunggu isu menjadi viral, lalu menyampaikan klarifikasi, menggelar konferensi pers, atau menerbitkan pernyataan resmi. Ketika respons itu muncul, ruang digital telah lebih dahulu dipenuhi berbagai interpretasi yang sulit dikendalikan. Organisasi akhirnya sibuk mengejar opini yang sudah terbentuk, bukan membangun opini sejak awal.

Pola seperti ini tidak hanya terjadi pada Pertamina. PLN menghadapi tantangan serupa ketika terjadi gangguan layanan kelistrikan. Pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai penyebab gangguan, tetapi juga pembaruan informasi yang cepat, komunikasi yang konsisten, dan ruang dialog selama proses pemulihan berlangsung. Demikian pula Garuda Indonesia. Restrukturisasi bisnis dan perbaikan operasional tidak akan sepenuhnya memulihkan reputasi apabila tidak disertai komunikasi yang terbuka, konsisten, dan mampu membangun kembali kepercayaan publik. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa di era digital, kualitas komunikasi sama pentingnya dengan kualitas layanan.

Perubahan ini sesungguhnya telah difasilitasi oleh perkembangan AI. Laporan Digital 2026 menunjukkan bahwa penggunaan AI semakin menjadi bagian dari aktivitas masyarakat global, sementara pemerintah Indonesia juga mendorong pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan tata kelola. Artinya, persoalan utama bukan lagi apakah organisasi memiliki teknologi, tetapi apakah teknologi tersebut benar-benar digunakan untuk memahami kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks komunikasi krisis, AI seharusnya berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system). Melalui social listening, analisis sentimen, Big Data Analytics, dan pemantauan media online secara real-time, organisasi dapat mengenali perubahan persepsi publik, mendeteksi munculnya isu baru, hingga memprediksi potensi eskalasi sebelum berkembang menjadi krisis reputasi. Dengan demikian, komunikasi tidak lagi sekadar bereaksi terhadap peristiwa, tetapi mampu mengantisipasi dan mengelolanya secara lebih strategis.

Inilah yang membedakan komunikasi reaktif dengan komunikasi prediktif. Komunikasi reaktif selalu berada satu langkah di belakang publik karena baru bertindak setelah krisis terjadi. Sebaliknya, komunikasi prediktif memanfaatkan AI untuk membaca pola percakapan, memahami ekspektasi masyarakat, dan membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih empatik.

Pendekatan tersebut sejalan dengan Situational Crisis Communication Theory (SCCT), yang menegaskan bahwa strategi komunikasi harus disesuaikan dengan persepsi publik terhadap tingkat tanggung jawab organisasi. Ketika masyarakat menilai perusahaan memiliki tanggung jawab besar atas suatu krisis, pendekatan yang defensif justru cenderung memperbesar ketidakpercayaan. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka, jujur, dan menunjukkan komitmen nyata terhadap perbaikan akan lebih efektif memulihkan reputasi.

Karena itu, sudah saatnya setiap BUMN membangun Crisis Analytics Command Center yang mengintegrasikan AI, Big Data, social listening, analisis sentimen, pemantauan media online, dan analisis jaringan percakapan digital ke dalam proses pengambilan keputusan. Keunggulan sistem seperti ini bukan terletak pada banyaknya data yang dikumpulkan, melainkan pada kemampuannya mengubah data menjadi pemahaman dan pemahaman menjadi tindakan yang tepat.

Kasus Pertamina Patra Niaga menjadi pengingat bahwa di era AI, reputasi tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengeluarkan klarifikasi, tetapi oleh siapa yang paling cepat memahami perubahan persepsi publik. Teknologi memang mampu mempercepat pengumpulan data, tetapi hanya organisasi yang mau mendengar yang mampu membangun kepercayaan.

Pada akhirnya, masa depan komunikasi BUMN tidak bergantung pada kecanggihan AI semata. AI hanyalah alat. Yang menentukan adalah keberanian organisasi mengubah budaya komunikasinya: dari merasa paling tahu menjadi mau mendengar, dari sekadar menjawab menjadi membangun dialog, dan dari komunikasi reaktif menuju komunikasi prediktif. Sebab pada akhirnya, publik tidak menilai BUMN dari seberapa banyak data yang dimiliki, tetapi dari seberapa cepat mereka memahami suara masyarakat dan menerjemahkannya menjadi kebijakan, pelayanan, dan komunikasi yang membangun kepercayaan.


*Penulis adalah Ketua Bidang Kebijakan Nasional IA-ITB dan Mahasiswa Magister Medkom - Konsentrasi Komunikasi Krisis, Universitas Pancasila


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

DPR Godok Anggaran Rekrutmen KPU-Bawaslu Daerah Dilakukan Serentak

Kamis, 09 Juli 2026 | 22:23

Dari Pala Jadi Peluang, BRI Peduli Perkuat Usaha KWT Bogor Lewat Program AURA

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:50

Mandatori B50 Meluncur, Indonesia Siap Perkuat Kedaulatan Energi

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:50

Prabowo Prediksi Target 100 GW PLTS Bakal Dihujat Pakar

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:46

Kejagung Sebut TNI Jaga Rumah Jampidsus Sudah SOP

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:38

Prabowo: Banyak Negara Iri dan Benci, Ingin RI Kolaps

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:30

Kapal Tanker Pertamina Pride Berhasil Lintasi Selat Hormuz

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:17

Rumah Sentul Tak Masuk LHKPN, Segini Harta Jampidsus

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:13

Prabowo Siapkan Penghargaan untuk Tokoh-tokoh di Balik Kesuksesan B50

Kamis, 09 Juli 2026 | 21:10

Galon PC Tak Sebabkan Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker

Kamis, 09 Juli 2026 | 20:35

Selengkapnya