Berita

Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan (Foto Dok. Fraksi Demokrat)

Politik

DPR Minta Risiko PFII Diantisipasi Sejak Penyusunan RUU

KAMIS, 09 JULI 2026 | 10:46 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Upaya membentuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dinilai berpotensi memperkuat arus investasi asing ke dalam negeri. 

Namun, berbagai potensi risiko terhadap stabilitas sistem keuangan nasional diminta diantisipasi sejak tahap penyusunan regulasi agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan, pembentukan PFII merupakan langkah positif karena diharapkan mampu menarik aliran modal baru dari luar negeri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.


"Tujuan yang sangat positif adalah bagaimana kita menarik uang segar dari luar yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja) RUU tentang PFII bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Mahkamah Agung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026. 

Meski demikian, ia meminta pemerintah bersama OJK, BI, dan LPS menjelaskan berbagai potensi celah maupun risiko rambatan yang dapat muncul dari aktivitas PFII terhadap sistem keuangan nasional.

"Kira-kira potensi-potensi itu ada tidak? Kalau ada, apa saja. Kemudian mitigasi atau tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan, sehingga niat baik dan tujuan baik dari adanya PFII ini benar-benar terwujud," katanya.

Marwan menegaskan seluruh potensi penyalahgunaan maupun risiko yang dapat mengganggu stabilitas sektor keuangan harus diantisipasi melalui pengaturan yang komprehensif. Dengan demikian, PFII tidak hanya mampu meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat keuangan internasional, tetapi juga tetap menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Ia berharap masukan dari seluruh otoritas terkait dapat memperkuat substansi RUU PFII sehingga implementasinya benar-benar memberi manfaat bagi perekonomian nasional tanpa menimbulkan risiko baru.


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya