Berita

Gedung BEI (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

BEI Bersiap Redam Potensi Outflow Asing Rp3,6 Triliun Imbas Peringatan S&P DJI

KAMIS, 09 JULI 2026 | 09:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mewaspadai potensi penarikan dana asing (capital outflow) mencapai 200 juta Dolar AS atau setara Rp3,6 triliun pasca peringatan dari lembaga pengelola indeks global, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI). 

Peringatan yang menyoroti isu transparansi pasar modal domestik tersebut memicu kekhawatiran terkait posisi Indonesia di dalam indeks global.

Berdasarkan kabar yang beredar di pasar, nilai eksposur saham Indonesia dalam indeks S&P DJI sejatinya diperkirakan mencapai Rp8,3 triliun. Namun, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengklarifikasi bahwa proyeksi dana asing yang berisiko keluar dinilai tidak sebesar angka tersebut. 


Meski mengakui ancaman penarikan dana tetap ada, Irvan menekankan bahwa dampaknya tidak akan terjadi secara serta-merta karena S&P DJI memberikan masa tenggang evaluasi selama satu tahun.

Guna menekan potensi outflow dan menjaga status Indonesia di kelompok emerging market, BEI bergerak cepat dengan mengagendakan dialog terbuka bersama S&P DJI. Langkah komunikasi ini melengkapi diskusi rutin yang selama ini telah terjalin dengan pengelola indeks internasional lainnya seperti MSCI dan FTSE Russell, serta keterlibatan aktif para manajer investasi dan anggota bursa.

Di saat bersamaan, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) terus mempercepat reformasi struktur pasar. 

Salah satu fokus utamanya adalah memperketat pengawasan terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) yang turut disinggung oleh S&P DJI. BEI pun mulai memberlakukan aturan peningkatkan porsi saham publik (free float) bagi seluruh emiten secara bertahap dengan tenggat waktu penyelesaian selama tiga tahun sejak 2026. 

Melalui kombinasi langkah perbaikan fundamental, pengawasan pasar secara berkesinambungan, serta negosiasi yang intensif dengan penyedia indeks, BEI optimistis mampu meminimalisasi risiko penarikan modal asing sekaligus mempertahankan kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya