Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Bisnis

Guru Besar IPB:

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

MINGGU, 28 JUNI 2026 | 04:39 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Hariyadi, menekankan pentingnya pendekatan "Nexus Baru" dalam pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan. 

Ia menyoroti perlunya memprioritaskan intensifikasi lahan daripada ekstensifikasi untuk mendongkrak produktivitas sektor perkebunan nasional. 

Hal tersebut ia sampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juni 2026.


“Saat ini produktivitas perkebunan rakyat masih berada di bawah 60 persen dari potensi yang ada. Perluasan lahan atau ekstensifikasi kurang tepat jika tidak dibarengi dengan kesiapan input seperti pupuk dan benih unggul,” ujar Prof. Hariyadi.

"Kuncinya adalah benih unggul dan input pupuk yang tepat. Saya lebih mendorong intensifikasi untuk mengoptimalkan potensi yang sudah ada,” tambahnya menegaskan.

Menurut dia, penerapan good agricultural practices (GAP) menjadi kunci utama, terutama melalui prinsip "5 Tepat" dalam pemupukan, yakni tepat jenis, dosis, tempat, waktu, dan cara aplikasi.

Terkait ekonomi sirkular, Prof Hariyadi menjelaskan bahwa limbah kelapa sawit seperti pelepah, tandan kosong (TKKS), cangkang, serat, hingga limbah cair pabrik (POME) memiliki potensi besar sebagai nilai tambah ekonomi, mulai dari sumber energi terbarukan, pakan ternak, hingga pupuk organik.

Namun, ia mengakui adanya sejumlah tantangan dalam implementasi ekonomi sirkular di industri sawit. Beberapa di antaranya meliputi tingginya investasi awal, keterbatasan teknologi, hambatan logistik, pasar produk turunan yang belum kuat, hingga masalah regulasi dan keterbatasan kapasitas pekebun kecil.

Menutup paparannya, Prof Hariyadi menegaskan bahwa kerangka kerja "Nexus Baru" harus mengintegrasikan berbagai aspek mulai dari produktivitas, ketahanan iklim, ekonomi sirkular, hingga digitalisasi untuk menjawab tantangan global seperti emisi karbon, perubahan iklim, dan standar environment, social, governance (ESG).


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya