Menteri Agama Nasaruddin Umar di acaa peringatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H, Kamis 25 Juni 2026 (Foto: Kemenag)
Kemenag bersama BAZNAS, BWI, perbankan syariah, dan LAZNAS menyalurkan bantuan Rp23,5 miliar dalam peringatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H di Jakarta, Kamis 25 Juni 2026.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan momentum 10 Muharam harus menjadi aksi nyata berkelanjutan untuk membebaskan anak-anak dari kesulitan melalui akses pendidikan dan ruang partisipasi.
“Mari kita jadikan 10 Muharam ini sebagai hari pembebasan bagi kelompok anak yatim dan kelompok yang membutuhkan perhatian. Kita bebaskan mereka dari berbagai kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan yang mereka alami,” ujar Menag.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momen ini sebagai tradisi memperkuat solidaritas.
“Kalau kita menjadi orang yang lapang dada, maka seluruh dendam akan terkubur, seluruh sakit hati akan terobati, dan berbagai persoalan dapat diselesaikan. Itulah makna lebaran yang sesungguhnya,” katanya.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa acara dikemas dalam lima zona festival terintegrasi (Tumbuh, Berdaya, Barokah Market, Ekspresi, dan Cahaya) agar anak-anak menjadi subjek aktif yang mandiri.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang lebih luas bagi anak yatim dan penyandang disabilitas untuk mengekspresikan potensi terbaik mereka. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian penting dari pembangunan sosial keagamaan,” ujar Abu.
Program berskala nasional ini melibatkan 14 lembaga pusat, 34 Kanwil Kemenag, serta ratusan kabupaten/kota berkat sinergi multi-sektor.
“Kekuatan utama program ini adalah kolaborasi. Ketika pemerintah, lembaga zakat, lembaga wakaf, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama, manfaat yang dirasakan anak-anak menjadi jauh lebih besar,” tutur Abu.
Selain diisi talkshow dan pentas bakat, acara ditutup dengan pelelangan karya anak binaan lewat "Lelang Cahaya".
Secara keseluruhan, bantuan sebesar Rp23.554.782.009 ini berhasil menjangkau 50.113 anak yatim dan 2.488 penyandang disabilitas di Indonesia. Kalimantan Barat menjadi wilayah distribusi terbesar (Rp7,5 miliar), dan Rumah Zakat menjadi mitra dengan kontribusi tertinggi.
Abu Rokhmad menegaskan capaian ini adalah bukti nyata keberhasilan gerakan kepedulian bersama.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi gerakan bersama yang berdampak luas. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh anak-anak yatim dan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia,” tandasnya.