Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Rupiah Loyo Dekati Rp18.000 per Dolar AS Usai Pengumuman MSCI, Kenapa?

RABU, 24 JUNI 2026 | 10:25 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar Rupiah tertekan sekitar 100 poin ke level Rp17.959 per Dolar AS atau kembali mendekati Rp18.000 pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan Rupiah dipengaruhi sejumlah faktor, baik dari sentimen pasar global maupun kondisi ekonomi domestik.

Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada hasil evaluasi dari MSCI. Meski Indonesia tetap berada dalam kelompok pasar berkembang (emerging market), investor asing disebut masih mencermati sejumlah persoalan mendasar.


"Memang kita tahu bahwa MSCI masih akan mempertahankan pasar modal kita di emerging market. Tetapi yang akan kita lihat ini adalah tentang masalah free float. Kemudian transparansi data," kata Ibrahim dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, isu transparansi data dan ketersediaan saham publik dinilai masih menjadi perhatian investor asing. Karena itu, reformasi di sektor pasar modal dianggap penting untuk meningkatkan kepercayaan investor.

"Ini yang menjadi satu permasalahan bagi investor asing. Sehingga ini yang kemungkinan besar akan dijadikan sebagai alasan bagi pasar tentang transparansi data yang harus benar-benar dilakukan reformasi oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia," ujarnya.

Selain itu, Ibrahim juga menyoroti melemahnya daya saing industri manufaktur nasional. Menurutnya, rencana penghentian produksi oleh dua perusahaan otomotif besar Jepang dan relokasi ke Vietnam menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.

Ia menambahkan, fenomena penutupan pabrik juga terjadi di sejumlah wilayah industri di Jawa Barat yang berdampak pada meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Nah di Jawa Barat banyak sekali perusahaan-perusahaan padat karya yang menutup pabriknya dan ini berdampak terhadap pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan sehingga ini akan berpengaruh terhadap daya saing industri manufaktur nasional dan akan berdampak terhadap daya beli masyarakat," tuturnya.

Dari sisi fiskal, Ibrahim menilai risiko pelebaran defisit anggaran juga menjadi perhatian pasar. Ia memperkirakan defisit APBN berpotensi mendekati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Artinya Pak bahwa defisit anggaran itu kemungkinan akan mendekati 3 persen," katanya.

Tekanan terhadap Rupiah, kata Ibrahim juga diperparah dengan meningkatnya kebutuhan Dolar AS menjelang akhir kuartal kedua. Menurutnya, banyak perusahaan terbuka yang mulai menyiapkan dana untuk pembayaran dividen, sementara pemerintah juga menghadapi kewajiban utang jatuh tempo dalam jumlah besar.

“Sehingha iminmembuktikan bahwa pemerintah saat ini sedang membutuhkan dana yang cukup besar,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyinggung adanya penarikan dana pemerintah dari bank-bank Himbara yang menurutnya dilakukan secara bertahap. 

Di saat yang sama, tingginya suku bunga disebut membuat aktivitas investasi dan pembangunan proyek melambat karena dunia usaha lebih berhati-hati dalam mengambil kredit baru, yang membuat daya beli semakin tertekan.

“Nah ini membuat masyarakat, pengusaha kembali wait and see dalam melakukan pembangunan saat ini. Di sisi lain pun juga kita melihat bahwa kondisi daya beli masyarakat yang terus mengalami penurunan dampak dari kelas menengah berpindah menjadi kelas bawah, kelas bawah berpindah menjadi kelas yang paling bawah lagi ini mengindikasikan bahwa kondisi ya kondisi ini sangat berdampak sekali ya sangat terpukul terhadap daya beli masyarakat,” pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya