Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Politik

Kekayaan Negara Bocor Rp2.500 Triliun Per Tahun, Imbasnya Gaji Guru dan ASN Susah Naik

SELASA, 23 JUNI 2026 | 18:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Prabowo Subianto mengungkap besarnya kebocoran kekayaan negara yang dinilai berdampak pada terbatasnya ruang fiskal pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru maupun aparatur sipil negara (ASN).

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 23 Juni 2026.

Prabowo menyoroti praktik pelaporan ekspor yang tidak sesuai atau under-invoicing yang menurutnya merugikan negara dalam jumlah besar. 


Berdasarkan data yang diterimanya dari United Nations Comtrade yang kemudian diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Indonesia diperkirakan telah kehilangan potensi kekayaan hingga 908 miliar dolar AS dalam 34 tahun terakhir. 

"Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB. Kita telah rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun. Atau Rp15 ribu triliun. Rp15 ribu triliun. Saudara-saudara, ini semua data keluar," ujarnya. 

Kemudian jika berdasarkan perhitungan para ahli, Prabowo mengatakan kebocoran kekayaan negara saat ini masih berada di kisaran 150 miliar dolar per tahun atau setara sekitar Rp2.500 triliun.

"Saudara-saudara, kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar (dolar AS) tiap tahun. Rp2.500 triliun tiap tahun," tutur Prabowo.

Menurut Kepala Negara, kebocoran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peningkatan ASN dan guru tidak kunjung mengalami kenaikan. 

"Harus mengerti, kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Yakan. Karena uangnya nggak ada, diambil terus," tegasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Prabowo mengatakan pemerintah telah merapikan dan menutup ratusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai tidak sehat dan terus merugi. 

"Sudah kita tutup, kita menghemat triliunan. Hanya dari nutup perusahaan-perusahaan yang nggak benar. Dan itu caranya para direksi itu nutupi korupsi mereka," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya