Berita

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Humas Kemenko IPK)

Nusantara

AHY: Jangan Sampai Kita Hasilkan Orang Pintar, Tapi Kehilangan Karakter

SABTU, 20 JUNI 2026 | 03:33 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Bonus demografi sering disebut sebagai peluang emas yang akan menentukan masa depan Indonesia. 

Dalam beberapa dekade mendatang, generasi muda, khususnya generasi milenial dan Generasi Z, akan menjadi kelompok terbesar yang menggerakkan pemerintahan, ekonomi, dunia usaha, dan berbagai sektor strategis lainnya.

Namun, bagi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak otomatis menjadi jaminan keberhasilan bangsa.


Yang menentukan bukan sekadar jumlah manusia produktif, melainkan kualitas manusia yang dimiliki Indonesia.

“Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang pintar yang jujur,” ujar AHY saat menyampaikan Studium Generale di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, dikutip, Jumat malam, 19 Juni 2026.

Menurut dia, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila dibarengi dengan kompetensi, karakter, dan integritas yang kuat.

Tanpa itu, peluang besar yang dimiliki Indonesia justru berpotensi menjadi tantangan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki berbagai modal pembangunan yang sangat besar, mulai dari posisi geografis yang strategis, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, hingga jumlah penduduk usia produktif yang terus meningkat.

Namun seluruh modal tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelolanya dengan baik.

“Potensi sebesar apa pun tidak akan berarti jika tidak ada manusia yang mampu mengelolanya secara bertanggung jawab,” ungkap dia.

AHY menilai pembangunan sumber daya manusia harus menjadi prioritas utama bangsa. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, integritas, disiplin, dan rasa tanggung jawab terhadap kepentingan publik.

Karena itu, menurutnya, kompetensi dan integritas tidak boleh dipisahkan. Kecerdasan tanpa karakter dapat melahirkan penyalahgunaan kewenangan. Kemampuan tanpa integritas dapat menciptakan tata kelola yang buruk.

Sebaliknya, ketika kompetensi bertemu dengan integritas, maka lahirlah kepemimpinan yang mampu membawa kemajuan bagi masyarakat.

“Jangan sampai kita menghasilkan orang-orang yang pintar, tetapi kehilangan karakter. Itu berbahaya bagi masa depan bangsa,” tegas AHY.

Dalam kesempatan tersebut, AHY juga mengapresiasi model pendidikan IPDN yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, dan semangat pengabdian.

Lanjut dia, keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan karakter yang kuat merupakan bekal penting bagi para Praja yang kelak akan menjadi aparatur negara dan pemimpin daerah.

AHY mengingatkan bahwa Indonesia sedang memasuki periode yang sangat menentukan. Generasi muda yang ada hari ini akan menjadi pengambil keputusan pada masa depan.

Mereka akan menentukan bagaimana sumber daya alam dikelola, bagaimana pembangunan dijalankan, dan bagaimana kesejahteraan rakyat diwujudkan.

Karena itu, kualitas manusia akan menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan Indonesia.

“Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki. Masa depan Indonesia ditentukan oleh siapa yang mengelolanya,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, AHY mengajak para Praja untuk terus membangun kapasitas diri sekaligus menjaga integritas.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga kejujuran dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya