Berita

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Humas Kemenko IPK)

Nusantara

AHY Genjot Semangat Praja IPDN Hadapi Tantangan Bangsa

SABTU, 20 JUNI 2026 | 01:50 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dunia sedang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim memicu semakin banyak bencana alam. Teknologi berkembang secara eksponensial. 

Urbanisasi berlangsung semakin cepat. Persaingan untuk memperebutkan sumber daya strategis semakin ketat. Sementara ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia terus menciptakan ketidakpastian.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap pasif.


“Indonesia tidak boleh hanya menunggu nasibnya,” ujar AHY saat menyampaikan Studium Generale di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, dikutip Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut dia, berbagai perubahan global yang terjadi saat ini bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dampaknya dapat dirasakan secara langsung, mulai dari ekonomi, pembangunan, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia mencontohkan bagaimana konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas harga energi dunia.

Salah satu titik yang menjadi perhatian dunia adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui hampir seperlima distribusi minyak dunia. Gangguan terhadap kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak global yang pada akhirnya berdampak pada biaya logistik, harga barang, dan biaya hidup masyarakat.

“Konflik yang terjadi jauh dari Indonesia pun tetap bisa berdampak kepada kita,” tuturnya.

Namun, menurut AHY, tantangan yang dihadapi dunia saat ini jauh lebih luas daripada persoalan geopolitik semata.

Krisis iklim telah meningkatkan frekuensi bencana alam di berbagai negara. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.

Urbanisasi juga menghadirkan tantangan baru bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam beberapa dekade mendatang, sebagian besar penduduk dunia akan tinggal di kawasan perkotaan, yang berarti kebutuhan terhadap infrastruktur, transportasi, perumahan, dan pelayanan publik akan meningkat secara signifikan.

“Dunia berubah sangat cepat. Karena itu kita juga harus berubah dan menyiapkan diri,” jelasnya.

AHY menegaskan bahwa menghadapi berbagai ketidakpastian global tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu membaca perubahan.

Karena itu, para Praja IPDN sebagai calon aparatur negara harus memiliki kemampuan untuk memahami tantangan global sekaligus menerjemahkannya menjadi kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Menurutnya, birokrasi masa depan tidak bisa bekerja dengan cara-cara lama.

Aparatur negara dituntut untuk lebih adaptif, lebih responsif, dan lebih cepat dalam mengambil keputusan.

“Jangan menjadi birokrat yang kaku. Harus mampu membaca perubahan, menyesuaikan diri, dan bertindak dengan cepat,” tegasnya. 

AHY optimistis Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Selain memiliki posisi strategis, Indonesia juga didukung sumber daya alam yang besar, bonus demografi, dan stabilitas nasional yang kuat.

Namun seluruh potensi itu hanya akan menjadi kekuatan apabila diimbangi dengan kualitas kepemimpinan dan sumber daya manusia yang mampu menjawab perubahan zaman.

Lanjut AHY, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kondisi global semata, melainkan oleh kesiapan bangsa dalam merespons berbagai perubahan yang terjadi.

“Bangsa yang berhasil bukan bangsa yang tidak memiliki tantangan. Bangsa yang berhasil adalah bangsa yang mampu menjawab tantangan yang dihadapinya,” tandasnya.

Menutup pesannya kepada para Praja, AHY mengajak generasi muda untuk tidak takut menghadapi perubahan.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, kemampuan beradaptasi akan menjadi salah satu kunci utama keberhasilan bangsa.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya