Berita

Ilustrasi SPBU (Foto: Dokumen RMOL)

Bisnis

Ekonom Sebut Butuh Waktu untuk Bisa Menurunkan Harga BBM Nonsubsidi

KAMIS, 18 JUNI 2026 | 12:25 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Harga kekinian Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mulai dipertanyakan masyarakat, saat harga minyak dunia turun setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) mengakhiri konflik. 

Ekonom Josua Pardede menjelaskan, harga BBM nonsubsidi yang dinaikkan sebagai imbas perang Iran dan Amerika Serikat, tidak bisa serta merta turun seiring melandainya harga minyak dunia.

“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar Rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak” katanya saat dihubungi, Kamis, 18 Juni 2026.


Josua menuturkan, semua faktor tersebut harus dihitung menggunakan rata-rata periode tertentu, bukan harga harian. Misal untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga lebih merupakan keputusan kebijakan negara yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan APBN.

Dengan begitu, lanjut ekonom Bank Permata ini, ketika harga minyak dunia turun maka ruang fiskal yang terbuka bisa lebih dahulu dipakai untuk mengurangi beban subsidi, dan kompensasi yang sebelumnya membengkak.

“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah," tutur Josua.

"Oleh karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi,” sambungnya.

Berdasarkan perhitungannya, harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter, atau sekitar Rp250 lebih tinggi dibandingkan harga jual yang berlaku saat ini. Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250 per liter.

Menurut Josua, tingginya harga keekonomian Pertamax dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar 70 Dolar AS per barel. Kondisi tersebut diperburuk oleh depresiasi nilai tukar Rupiah yang meningkatkan biaya impor energi.

Ia menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang diperlukan untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.

"Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina," demikian Josua menambahkan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya