Berita

Ilustrasi Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator (Sumber: BGN)

Hukum

Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Apa Maksudnya?

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 19:37 WIB | OLEH: TIFANI

Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya berencana mengajukan diri sebagai justice collaborator. Keputusan tersebut disebut dilatarbelakangi keinginannya untuk membantu mengungkap perkara secara menyeluruh dan agar tidak menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan dalam kasus tersebut.

Apa Itu Justice Collaborator?

Justice collaborator adalah pelaku tindak pidana yang bersedia bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana tertentu yang terorganisir dan menimbulkan ancaman serius. Tindak pidana yang dimaksud antara lain korupsi, terorisme, narkotika, tindak pidana pencucian uang (TPPU), perdagangan orang, serta berbagai kejahatan terorganisir lainnya. 


Dalam sistem hukum Indonesia, justice collaborator juga dikenal sebagai saksi pelaku yang bekerja sama. Mengutip laman resmi Mahkamah Agung (MA), konsep justice collaborator di Indonesia berangkat dari Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerja Sama (Justice Collaborator) dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu.

Menurut SEMA Nomor 4 Tahun 2011, keberadaan justice collaborator sejalan dengan ketentuan dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antikorupsi atau United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) Tahun 2003. Beberapa ketentuan yang menjadi dasar antara lain:

1. Pasal 37 ayat (2) menyebutkan bahwa setiap negara peserta wajib mempertimbangkan kemungkinan memberikan pengurangan hukuman kepada pelaku yang memberikan kerja sama substansial dalam proses penyelidikan atau penuntutan tindak pidana yang diatur dalam konvensi tersebut.

2. Pasal 37 ayat (3) menyatakan bahwa setiap negara peserta perlu mempertimbangkan kemungkinan, sesuai prinsip dasar hukum nasionalnya, untuk memberikan kekebalan dari penuntutan kepada seseorang yang memberikan kerja sama substansial dalam penyelidikan atau penuntutan suatu tindak pidana.

Syarat Menjadi Justice Collaborator

Seseorang dapat memperoleh status justice collaborator apabila memenuhi sejumlah syarat, yaitu:

1. Merupakan salah satu pelaku tindak pidana dan mengakui perbuatannya, tetapi bukan pelaku utama dalam kejahatan tersebut.
2. Bersedia memberikan keterangan sebagai saksi dalam proses peradilan.
3. Memberikan informasi dan bukti yang sangat signifikan sehingga membantu penyidik atau penuntut umum mengungkap tindak pidana secara efektif.
4. Membantu mengungkap pelaku lain yang memiliki peran lebih besar atau membantu mengembalikan aset maupun hasil tindak pidana.

Selain itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) harus menyatakan dalam tuntutannya bahwa keterangan dan bukti yang diberikan oleh yang bersangkutan memiliki peran penting dalam proses pengungkapan perkara.

Hak Justice Collaborator

Berikut sejumlah hak yang dapat diperoleh oleh justice collaborator:

1. Tidak Dapat Dituntut atas Kesaksiannya

Berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, justice collaborator tidak dapat dituntut secara pidana maupun perdata atas kesaksian atau laporan yang diberikan, selama dilakukan dengan itikad baik.

2. Tuntutan Hukum Dapat Ditunda

Apabila terdapat tuntutan hukum terkait kesaksian atau laporan yang diberikan, proses tersebut wajib ditunda hingga perkara yang dilaporkan memperoleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

3. Mendapat Penanganan Khusus

Justice collaborator dapat memperoleh perlakuan khusus selama proses pemeriksaan, seperti pemisahan tempat penahanan, pemisahan pemberkasan, hingga pemisahan saat memberikan kesaksian.

4. Memperoleh Penghargaan

Penghargaan yang dapat diberikan antara lain keringanan hukuman, remisi tambahan, pembebasan bersyarat, serta hak narapidana lainnya sesuai ketentuan perundang-undangan. Pemberian penghargaan tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

5. Berpeluang Mendapat Hukuman Lebih Ringan

SEMA Nomor 4 Tahun 2011 menyebutkan bahwa justice collaborator dapat memperoleh pidana percobaan bersyarat khusus atau pidana penjara yang paling ringan dibanding terdakwa lain yang terbukti bersalah dalam perkara yang sama. Meski demikian, hakim tetap harus mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat dalam menjatuhkan putusan.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya