Berita

Ilustrasi batu bara (Artificial Inteligence)

Bisnis

Dilema Batu Bara Global: Diapit Stimulus AS dan Stabilisasi Pasar China

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 12:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tren penguatan harga batu bara akhirnya terhenti dan mulai bergerak turun. 

Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan kemarin, Kamis 4 Juni 2026, harga batu bara untuk kontrak Juli ditutup melemah 0,64 persen ke level 147,05 Dolar AS per ton. 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa hari Rabu yang sempat melonjak signifikan sebesar 2,21 persen.


Penurunan harga batu bara kali ini dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah global. Sebagai sesama komoditas energi yang saling menggantikan atau substitusi, pergerakan harga minyak dan batu bara memang memiliki keterikatan yang kuat.

Di pasar minyak, harga ambles sekitar 3 persen pada Kamis setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih untuk menghindari perang skala penuh dengan Iran, meskipun ketegangan dan bentrokan kecil masih mewarnai hubungan kedua negara belakangan ini. 

Akibat sentimen tersebut, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,1 persen dan parkir di level 93,04 Dolar AS per barel, sementara minyak Brent Crude yang menjadi acuan internasional menyusut 2,8 persen ke posisi 95,03 per barel Dolar AS.

Sentimen negatif dari pasar minyak rupanya lebih dominan ketimbang angin segar yang datang dari Washington. 

Pada hari yang sama, Presiden Trump sebenarnya mengumumkan kebijakan besar dengan memanfaatkan undang-undang era Perang Dingin untuk mengalokasikan dana sebesar 700 juta Dolar AS demi menyokong berbagai proyek batu bara. 

Kebijakan ini merupakan bagian dari ambisi terbaru Trump untuk meningkatkan pemanfaatan batu bara, yang dikenal sebagai bahan bakar fosil dengan tingkat polusi tertinggi.

Trump merinci bahwa stimulus jumbo tersebut bakal digunakan untuk menjaga keberlangsungan operasional lebih dari selusin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di 10 negara bagian, mendukung 42 tambang batu bara, serta mendanai pembangunan dua PLTU baru dan satu terminal ekspor batu bara. 

Suntikan dana ini digulirkan lewat Defense Production Act tahun 1950, sebuah regulasi yang memberikan hak darurat kepada Presiden AS untuk mengendalikan sekaligus menyokong industri domestik yang dianggap penting bagi kepentingan nasional.

Kendati Trump agresif mendorong pemulihan sektor ini, industri batu bara AS justru kian menyusut. 

Saat ini, volume produksi batu bara di AS berada di bawah setengah dari level tahun 2008. Jumlah pekerja tambang juga telah merosot drastis hingga lebih dari 90 persen jika dibandingkan dengan kondisi seabad silam. Dominasi pasokan listrik di AS kini telah beralih ke gas alam dan energi terbarukan yang dinilai jauh lebih murah.

Sementara itu dari Asia, kabar mengenai harga batu bara termal di pelabuhan utara China terpantau mulai bergerak stabil setelah sebelumnya sempat menguat akibat kendala pasokan. 

Saat ini, perhatian pelaku pasar tidak lagi tertuju pada masalah suplai, melainkan telah bergeser pada ketidakpastian permintaan di masa mendatang.

Pasokan batu bara di sana berangsur pulih seiring dengan tambang-tambang yang sempat terganggu kembali beroperasi setelah lolos inspeksi keselamatan. Di sisi lain, tingginya cadangan batu bara di pelabuhan membuat pelaku pasar ragu bahwa harga akan terus menguat.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya