Berita

Ilustrasi Rupiah (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Saat Rupiah Ambruk dan IHSG Tertekan, Pemerintah Diminta Hadapi Realitas

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 10:42 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menembus level Rp18.000 per Dolar AS dinilai bukan hal yang mengejutkan. 

Managing Director PEPS, Anthony Budiawan, menyebut arah pelemahan tersebut telah diperkirakan banyak kalangan dalam beberapa bulan terakhir, meski pemerintah terus meyakinkan publik bahwa Rupiah akan menguat.

"Kurs Rupiah tembus Rp18.000 per Dolar AS. Tidak mengejutkan. Arah ke sana sudah diperkirakan banyak kalangan dalam beberapa bulan terakhir, meskipun pemerintah terus bersikeras menyangkal," kata Anthony dalam keterangannya, Jumat 5 Juni 2026. 


Menurut Anthony, upaya pemerintah untuk menenangkan publik sebenarnya dapat dipahami. Namun, sikap tersebut justru menjadi bumerang karena tidak diiringi kebijakan konkret yang mampu mengembalikan kepercayaan pasar.

Ia juga menyoroti sejumlah pernyataan pejabat pemerintah yang dinilai meremehkan para ekonom yang sejak awal mengingatkan potensi pelemahan Rupiah.

"Dengan gaya khasnya, Menteri Keuangan menyatakan para ekonom pengkritik tidak paham ekonomi. Pemerintah berulang kali mengatakan Rupiah akan menguat. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Rupiah terus terdepresiasi. Kredibilitas pemerintah terus terkikis," ujarnya.

Anthony menilai tekanan tidak hanya terjadi pada nilai tukar Rupiah. Menurutnya, pasar saham nasional juga mengalami pelemahan yang cukup signifikan.

"Bursa saham pun ikut ambruk. IHSG ditutup di bawah 6.000 hari ini, turun sepertiga dari puncaknya pada awal Januari tahun ini," katanya.

Ia menambahkan, ketidakpastian investor semakin meningkat akibat sejumlah kebijakan yang diterbitkan secara mendadak, termasuk kebijakan kewajiban ekspor batu bara dan kelapa sawit melalui satu pintu di PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Dalam situasi tersebut, Anthony menilai pelaku usaha, investor, hingga masyarakat mulai mempertanyakan arah perekonomian nasional.

"Bukan hanya pengusaha dan investor yang was-was. Publik pun mulai mempertanyakan ke mana arah ekonomi Indonesia ke depan: apakah Rupiah akan berbalik menguat ke Rp16.000, atau justru melanjutkan pelemahannya menuju Rp20.000 per Dolar AS?" tuturnya.

Menurut Anthony, pergerakan Rupiah saat ini sangat bergantung pada masuknya aliran modal asing, terutama yang berasal dari penarikan utang luar negeri. Tanpa dukungan arus dana yang memadai, tekanan terhadap nilai tukar diperkirakan akan terus berlanjut.

Ia mengungkapkan cadangan devisa Indonesia dalam empat bulan pertama 2026 mengalami penurunan cukup signifikan.

"Faktanya, dalam empat bulan pertama 2026, cadangan devisa merosot 10,3 miliar Dolar AS, dari 156,5 miliar Dolar AS pada akhir Desember 2025, menjadi 146,2 miliar Dolar AS pada akhir April 2026," jelasnya.

Anthony juga menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin pada bulan lalu belum memberikan dampak berarti terhadap stabilitas Rupiah.

Karena itu, ia menilai nasib Rupiah kini sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menerbitkan Panda Bond, yaitu surat utang berdenominasi Yuan yang direncanakan diterbitkan di pasar keuangan China.

"Kini, nasib Rupiah bertumpu pada satu variabel krusial, yakni keberhasilan penerbitan Panda Bond. Jika penerbitan itu gagal atau hasilnya jauh di bawah ekspektasi sehingga tidak cukup menutup capital outflow, maka Rupiah diprediksi akan terus terdepresiasi," ungkapnya.

Anthony memperingatkan, apabila skenario tersebut terjadi, nilai tukar Rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per Dolar AS.

"Kurs Rp20.000 per Dolar AS, atau depresiasi sekitar 21 persen dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500, bisa segera menjadi kenyataan," tegasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Anthony menilai masyarakat membutuhkan pandangan dan analisis independen dari para ekonom agar dapat memahami risiko ekonomi secara lebih objektif.

"Masyarakat membutuhkan informasi alternatif yang jujur untuk memahami risiko yang sesungguhnya dan mengambil langkah antisipasi yang tepat, bukan sekadar narasi optimisme yang berulang kali terbukti meleset," pungkasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Telkom Cegah Kerusakan Terumbu Karang Lewat Program ‘Bisa Biru’

Rabu, 15 Juli 2026 | 18:05

Cak Imin dan Parpol Sahabat Ikut Merumput di Turnamen Minisoccer Harlah PKB

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:38

Kebutuhan Dana B50 Capai Rp32,3 Triliun, BPDP Pastikan Kas Aman

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:36

Baliho Ulang Tahun Jokowi Disoal, Pengamat Minta PPID Buka Dokumen Perizinan

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:23

Kejagung Teken Tiga Sprindik Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:16

Zulhas Ungkap Dua Fungsi Utama Kopdes Merah Putih, Tegaskan Bukan Supermarket

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:08

IHSG Sore Ini Menguat ke 6.041, Rupiah Ditutup Rp18.068 per Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:00

Menpar Jamin Setiap Rupiah Anggaran Negara Dikelola Akuntabel

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:51

Sentuhan Teknologi Digital Mudahkan Masyarakat Ikuti Gerakan Sedekah Subuh

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:48

Curiga Ada Intervensi Jelang Musda Demokrat Aceh, Kader Kirim Surat Terbuka ke AHY

Rabu, 15 Juli 2026 | 16:47

Selengkapnya