Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Publika

Membungkam Suara, Mematikan Demokrasi

SELASA, 02 JUNI 2026 | 04:08 WIB

DI tengah derasnya arus informasi dan semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian bersama: kritik yang dibalas dengan intimidasi, aspirasi yang dijawab dengan tekanan, dan suara-suara publik yang berusaha dibungkam ketika mengungkapkan kebenaran.

Sebagai warga negara, masyarakat memiliki hak untuk bertanya, mengkritik, mengawasi, dan menyampaikan pendapat terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik. Hal tersebut bukanlah pemberian dari siapa pun, melainkan amanat konstitusi yang menjadi salah satu fondasi utama kehidupan demokrasi.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit masyarakat, mahasiswa, aktivis, jurnalis, maupun tokoh publik yang menghadapi tekanan ketika menyampaikan kritik terhadap kebijakan, dugaan penyimpangan anggaran, pelayanan publik yang buruk, maupun berbagai persoalan yang berdampak langsung kepada rakyat. 


Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ruang demokrasi yang seharusnya terbuka justru perlahan dipenuhi rasa takut.

Demokrasi tidak pernah dibangun oleh keheningan. Demokrasi lahir dan tumbuh dari keberanian masyarakat untuk menyampaikan pendapat serta kesediaan para pemangku kepentingan untuk mendengarkan. 

Ketika kritik dianggap sebagai ancaman dan perbedaan pandangan diperlakukan sebagai permusuhan, maka yang sesungguhnya sedang terancam bukanlah individu yang berbicara, melainkan kualitas demokrasi itu sendiri.

Sejarah mengajarkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari suara-suara yang pada awalnya dianggap mengganggu kenyamanan kekuasaan. 

Berbagai praktik korupsi terungkap karena keberanian masyarakat melapor. Berbagai kebijakan yang merugikan rakyat diperbaiki karena adanya kritik dan pengawasan publik. 

Oleh sebab itu, kritik tidak seharusnya dipandang sebagai musuh, melainkan sebagai instrumen perbaikan yang sangat diperlukan dalam tata kelola pemerintahan yang sehat.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang anti kritik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi dan menjawabnya dengan transparansi, argumentasi, serta tindakan nyata. 

Sebaliknya, ketika intimidasi menjadi jawaban atas kritik, maka kepercayaan publik akan terkikis dan jarak antara rakyat dengan para pengambil kebijakan akan semakin lebar.

Saat ini masyarakat membutuhkan jaminan bahwa ruang kebebasan berekspresi tetap terlindungi. Tidak boleh ada warga negara yang merasa takut untuk menyampaikan kebenaran. 

Tidak boleh ada masyarakat yang ragu untuk mengawasi penggunaan uang rakyat. Dan tidak boleh ada upaya yang membuat publik kehilangan keberanian untuk bersuara demi kepentingan bersama.

Kebebasan berpendapat bukanlah ancaman bagi negara. Justru kebebasan berpendapat merupakan salah satu kekuatan yang menjaga negara tetap berada di jalur yang benar. 

Demokrasi yang sehat membutuhkan kritik. Demokrasi yang sehat membutuhkan pengawasan. Demokrasi yang sehat membutuhkan keberanian rakyat untuk bersuara.

Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa untuk menjaga ruang demokrasi yang terbuka, menghormati perbedaan pendapat, serta menolak segala bentuk intimidasi terhadap masyarakat yang menyampaikan aspirasi secara damai dan bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, demokrasi tidak akan hancur oleh banyaknya kritik. Demokrasi akan hancur ketika rakyat tidak lagi berani berbicara.

"Suara rakyat bukan ancaman bagi demokrasi. Justru suara rakyat adalah napas yang membuat demokrasi tetap hidup."

Fajar Alamsyah
Aktivis Kepemudaan dan Pengawas Kebijakan Publik

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya