Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

KPK Diminta Jelaskan Arah Pengembangan Kasus Blueray Cargo

MINGGU, 31 MEI 2026 | 05:04 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Munculnya sejumlah nama importir dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Fillar Marindra dinilai menimbulkan pertanyaan publik mengenai arah pengembangan perkara dugaan suap dan gratifikasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Spesialis Analisis Kontra Intelijen, Gautama Wiranegara, menyoroti fakta bahwa selain  Blue Ray Cargo, terdapat sejumlah nama importir lain yang juga masuk dalam pembahasan parameter targeting di BAP tersebut.

“Dari BAP yang sama, muncul nama-nama importir lain yang juga menjadi objek pembahasan targeting, yakni Fasdelli, Ali Medan, Nusa Fikry, Harta Jaya. Tapi hingga hari ini, perkara utama yang masuk persidangan hanya berpusat pada Blueray Cargo. Ini pertanyaan yang sah secara hukum, dan publik berhak tahu jawabannya,” kata Gautama dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.


Menurut Gautama, ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan kondisi tersebut. Salah satunya, penyidik memang baru memiliki bukti pemberian uang yang kuat pada perkara Blueray.

“Dalam perkara suap, yang dicari bukan volume impor terbesar, melainkan pemberi uang, penerima uang, aliran dana, dan hubungan dengan jabatan. Jika bukti terhadap Fasdelli atau Ali Medan tidak cukup, KPK tidak bisa memaksanya. Ini logis,” ujarnya.

Kemungkinan lain, kata Gautama, perkara Blueray merupakan pintu masuk untuk mengembangkan dugaan keterlibatan pihak lain yang masih dalam proses pendalaman.

“Perkara Blueray bisa jadi hanya pintu masuk. Nama-nama lain masih dalam pendalaman. Tapi jika ini skenarionya, publik perlu melihat progres. Jangan sampai pendalaman berlarut tanpa kepastian,” tegasnya.

Dari perspektif kontra intelijen, Gautama menilai terdapat dua kemungkinan pembacaan yang lebih dalam. Pertama, Blueray memang menjadi simpul utama pembayaran sehingga wajar dijadikan titik masuk penyidikan.

“Blueray bukan importir terbesar, tetapi menjadi simpul distribusi dana kepada jaringan tertentu. Kalau ini benar, secara investigatif Blueray memang logis dijadikan titik masuk. KPK tidak harus mengejar semua importir sekaligus; cukup satu yang kuat, lalu merambat ke yang lain,” jelasnya.

Namun ia juga mengingatkan kemungkinan lain, yakni apabila Blue Ray hanya salah satu pemain sementara jaringan yang lebih besar belum tersentuh penyidikan.

“Kalau ini yang terjadi, maka penyidikan akan menghadapi tuduhan selective enforcement, penegakan hukum yang hanya menyasar sebagian simpul. Dan tuduhan itu akan sulit dibantah jika dalam BAP sudah jelas ada nama-nama lain yang disebut,” tegasnya lagi.

Meski demikian, Gautama mengaku masih cenderung melihat perkara Blueray sebagai pintu masuk pengembangan kasus yang lebih luas.

“Dari pilihan di atas, saya cenderung membaca bahwa KPK masih pada kemungkinan pertama. Tapi waktu tidak bisa berjalan terus tanpa hasil. Semakin lama hanya Blueray yang berproses, sementara nama lain menggantung, publik akan bertanya-tanya,” ujarnya.

Karena itu, Gautama meminta KPK memberikan penjelasan secara proporsional mengenai posisi nama-nama lain yang muncul dalam BAP.

“Jelaskan secara proporsional mengapa perkara berpusat pada Blueray sementara nama lain muncul dalam BAP. Apakah karena bukti belum cukup, masih pengembangan, atau ada hambatan lain,” pungkasnya.


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya