Berita

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Publika

Belajar Bahasa Prancis Oleh-oleh dari Paris

SABTU, 30 MEI 2026 | 04:35 WIB

INI instruksi presiden kita, panglima tertinggi. Seluruh sekolah harus mengajarkan Bahasa Prancis. 

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh tingkatan sekolah di Indonesia belajar bahasa Prancis. 

Ya, benar. Bahasa Prancis. Bukan typo. Bukan bahasa Inggris. Bukan pula tambahan jam Bahasa Indonesia biar anak-anak tidak lagi menulis “di sekolah” jadi “disekolah”.


Pernyataan itu disampaikan pada 28 Mei 2026 di Paris setelah bertemu Presiden Emmanuel Macron.

Kalimat beliau kira-kira begini, “Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan.”

Kalimatnya megah. Diplomatik. Berkelas Eropa. Kalau dibacakan sambil berdiri di depan Menara Eiffel mungkin merinding.

Masalahnya rakyat mendengarnya sambil duduk di warung kopi.

Reaksi pertama yang muncul bukan “vive la France”.

Tapi, “Guru Prancisnya di mana, wak?”

Nah, di situ letak dramanya.

Bahasa Prancis memang bukan bahasa gampang. Bahkan sebagian orang yang sudah lumayan lancar bahasa Inggris pun bisa mendadak menyerah sebelum membuka halaman tiga buku Prancis.

Tulisan panjang. Bacanya pendek. Huruf ada sepuluh. Yang dibaca cuma empat.

Contoh, Beaucoup. Dibaca, boku.

Huruf sisanya entah sedang cuti atau mogok nasional.

Belum lagi bunyi sengau khas Prancis yang kalau orang Indonesia latihan sendiri di rumah bisa dikira sedang pilek berat.

Sekarang bayangkan anak kelas satu SD. Masih belajar mengeja “ibu pergi ke pasar”.

Besok gurunya masuk kelas.

“Anak-anak, ulangi ya… bonjour.”

Murid menjawab:

“Bonjorrrr.”

“Bukan… bon-jur.”

“Bonjer.”

“Bukan.”

“Banjur.”

“Ya Allah sudahlah, buka buku matematika.”

Masalah berikutnya lebih serius. Jumlah guru bahasa Prancis di Indonesia memang terbatas.

Memang ada kampus yang mencetaknya. Seperti di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Medan (UNIMED), dan beberapa kampus lain.

Tapi jumlah lulusannya per tahun tidak banyak. Mungkin ratusan.

Sementara Indonesia punya ratusan ribu sekolah. Artinya kalau dibagi rata, bisa jadi satu guru bahasa Prancis harus mengajar dari Sabang sampai Merauke sambil naik motor, kapal, lalu mungkin lanjut rakit bambu.

Maka muncullah berbagai kemungkinan. Mungkin penerapannya bertahap. Mungkin dimulai dari sekolah unggulan. Mungkin lewat pelatihan ulang guru. Mungkin kerja sama dengan Alliance Française dan Kedutaan Prancis. Mungkin juga lewat video pembelajaran.

Atau jangan-jangan nanti guru Bahasa Inggris mendadak ikut kursus kilat 14 hari, lalu Senin sudah mengajar,

“Good morning… eh pardon… bonjour semuanya.”

Meski begitu, niat kebijakannya bisa dipahami. Prabowo memang sedang mendorong penguatan bahasa asing sejak dini mulai dari Inggris, Mandarin, dan sekarang Prancis. Tujuannya membuka peluang diplomasi, bisnis, pertahanan, dan kerja sama internasional.

Visinya besar. Sangat besar. Sebesar cita-cita anak SD yang minggu lalu mau jadi YouTuber, minggu ini mau jadi pilot, besok mungkin diplomat di Paris.

Tapi seperti biasa, yang bikin rakyat garuk kepala bukan visinya. Melainkan pelaksanaannya. Karena negeri ini sering jago bikin kalimat “akan segera dilaksanakan”.

Yang sulit biasanya kata setelahnya, “bagaimana caranya?”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya