Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara usai Rapat Pleno Hasil Penilaian dan Usulan Tim Ekspedisi Patriot 2026. (Foto RMOL Jateng/Humas Kementrans).
Sebanyak 10.539 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi ternama di Indonesia mendaftar sebagai peserta Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang digagas Kementerian Transmigrasi. Hal itu menjadi penanda bahwa minat generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan kawasan transmigrasi terus meningkat.
Setelah lolos seleksi, Tim Ekspedisi Patriot 2026 rencananya akan diberangkatkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai daerah pada akhir Juli 2026.
Program TEP 2026 menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sumber daya manusia unggul di kawasan transmigrasi sekaligus mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan tingginya jumlah pendaftar menunjukkan semakin besarnya kepedulian generasi muda terhadap pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kami ingin the best of the best. Kami ingin yang terbaik dari yang terbaik, sehingga yang datang ke kawasan transmigrasi itu betul-betul adalah SDM unggul yang terseleksi oleh universitas terbaik,” ujar Iftitah dikutip
Kantor Berita RMOLJateng, Rabu, 27 Mei 2026.
Dari total pendaftar Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, Universitas Indonesia (UI) menjadi kampus dengan jumlah peserta terbanyak yakni 1.249 orang. Disusul Universitas Gadjah Mada (UGM) sebanyak 1.187 pendaftar, Universitas Hasanuddin (Unhas) 1.181 pendaftar, dan Universitas Airlangga (Unair) 1.157 pendaftar.
Selain itu, Institut Pertanian Bogor (IPB) mencatat 1.075 pendaftar, Universitas Brawijaya (UB) 1.014 pendaftar, Universitas Diponegoro (Undip) 972 pendaftar, Universitas Padjadjaran (Unpad) 952 pendaftar, Institut Teknologi Bandung (ITB) 872 pendaftar, serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebanyak 700 pendaftar.
Para peserta berasal dari berbagai disiplin ilmu strategis seperti pertanian, kehutanan, perikanan, energi terbarukan, kebencanaan, teknik lingkungan, tata ruang, hingga ilmu sosial dan pengembangan masyarakat.
Menurut Iftitah, keberagaman latar belakang keilmuan tersebut dibutuhkan untuk membangun kawasan transmigrasi secara komprehensif dan berkelanjutan.
“Indonesia tidak kekurangan potensi, Indonesia kaya. Yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia unggul yang hadir di kawasan-kawasan transmigrasi,” ungkapnya.
Seleksi peserta dijadwalkan berlangsung pada awal Juni 2026, dilanjutkan pembekalan di masing-masing kampus mitra. Pembekalan itu akan difokuskan pada penguatan kemampuan adaptasi lingkungan, mitigasi bencana, hingga aspek kesehatan peserta.
Sehingga mereka bisa betul-betul memiliki satu survival mode menghadapi luar biasa kekayaan Indonesia ini beserta dengan tantangannya,” pungkas Iftitah.