Berita

Ilustrasi dunia pendidikan. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Pendidikan Post Human

JUMAT, 22 MEI 2026 | 20:05 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KERING! Beberapa dekade terakhir, kebijakan dan riset pendidikan tampak mengering. Disibukkan dengan mengukur keberhasilan berdasarkan data statistik: angka kelulusan ujian, atau tingkat efisiensi anggaran operasional sekolah.
 
Kegagalan terbesar, ketika menyempitkan pendidikan menjadi instrumen teknis-administratif dan melupakan landasan filosofis minim nalar kritis dan miskin empati sosial.

Kekacauan dalam cara berpikir modern, manakala memaksakan standar kuantitatif kaku untuk mengukur aspek moral atau spiritual peserta didik, tetapi mendistorsi hakikat kemanusiaan.
 

 
Ontologi Manusia

Kehadiran kecerdasan buatan, memaksa redefinisi manusia. Berdasarkan John Searle (1980), dibuktikan bila komputer hanyalah pemroses simbol berdasarkan sintaksis, tanpa pemahaman makna semantik sejati (qualia).
 
Pada perspektif berbeda, Rosi Braidotti (2013) dan Donna Haraway (1991) mendekonstruksi pandangan humanisme klasik, yang menempatkan subjek manusia sebagai pusat kesadaran tunggal.
 
Di era digital, semua sejatinya hidup dalam jaringan agensi terdistribusi antara manusia dan teknologi. Dalam modernitas, pendidik tidak sebagai sumber kebenaran utama, melainkan sebagai mitra dalam mendesain ekosistem pembelajaran bersama teknologi.
 
Epistemisida Lokal

Ironisnya, saat teknologi melesat ke masa depan, kurikulum pendidikan masih terjajah oleh masa lalu. Sejalan Boaventura de Sousa Santos (2014), yang membongkar garis imajiner abyssal pembelah dunia.
 
Dimana pengetahuan yang lahir dari sains Barat, dianggap sebagai kebenaran modern mutlak dan universal, sementara kearifan lokal (indigenous knowledge) di belahan bumi Selatan diasumsikan primitif dan tidak ilmiah. Situasi ini, dimaknai sebagai pembunuhan sistematis terhadap pengetahuan lokal sebagai epistemisida (epistemicide).
 
Selaras Ng?g? wa Thiong'o (1986) dalam Decolonising the Mind, menegaskan pentingnya membebaskan pikiran dari belenggu ontologi penjajah. Menyelamatkan jiwa pendidikan berarti berani menyelenggarakan ekologi pengetahuan yang setara.
 
Dengan begitu, siswa tidak hanya perlu belajar fisika modern, tetapi juga harus diajarkan menghargai kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam, mengelola konflik sosial, dan merawat spiritualitas hidup.
 
Bukan Kabel Otak

Tren populer kekinian, mereduksi proses belajar menjadi urusan biologis saraf (neurosains). Dimunculkan premis bahwa mendidik, adalah tentang bagaimana rekayasa saraf terjadi pada sistem perangkat kerja otak.
 
Namun, Antonio Damasio (1994) melalui Descartes' Error membantah keras dualisme Cartesian yang memisahkan pikiran dengan tubuh. Dibuktikan secara medis, bahwa emosi fisik dan intuisi sosial sangat esensial dalam melahirkan keputusan rasional. Tidak bisa mendidik akal tanpa mengajarkan dengan hati.
 
Selain itu, Stanislas Dehaene (2020) turut membongkar mitos bahwa otak sebagai kertas kosong (tabula rasa). Sejak lahir, otak manusia dipersenjatai secara genetis dengan kapasitas luar biasa, untuk memproyeksikan rumus abstrak dan menangkap pola bahasa.
 
Formulasi Dehaene, dikontribusikan atas empat pilar pembelajaran efektif: perhatian (attention), keterlibatan aktif (active engagement), umpan balik kesalahan (error feedback), dan konsolidasi memori (consolidation). Sehingga, anak bukanlah wadah kosong pasif untuk diisi dogma, melainkan pembelajar yang secara aktif menguji hipotesis terhadap dunia.
 
Kebenaran yang Berpihak

Bagi Michael Crotty (1998), diingatkan bahwa harus ada garis linear tegas antara apa yang diyakini sebagai realitas (ontologi) dengan bagaimana cara mengetahuinya (epistemologi).
 
Penelitian tentang manusia secara kualitatif, tidak bisa menggunakan standar validitas statistik. Karena itu, Yvonna Lincoln dan Egon Guba (1985) menawarkan standar kepercayaan (trustworthiness), terdiri dari: kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Terjadi keterlibatan emosional secara utuh bersama subjek penelitian, bukan sebagai objek mati.
 
Paulo Freire (1970) mengingatkan, bahwa pengetahuan tidak netral; melainkan sebentuk kekuasaan. Ilmu pendidikan adalah sains sarat nilai (value-bound). Harus terdapat ruang untuk mempertanyakan apakah kebijakan bersifat adil bagi kelompok marjinal.
 
Pendidikan di era disrupsi perlu dikembalikan sebagai ruang emansipasi sosial, tempat di mana manusia dididik bukan untuk menjadi buruh algoritma, melainkan sebagai subjek berdaulat yang mampu merawat jaring kehidupan di bumi ini.
 
Penulis tengah Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya