Berita

Ilustrasi

Bisnis

BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Borong Dolar AS

JUMAT, 22 MEI 2026 | 17:11 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat tidak panic buying memborong Dolar AS (AS) di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus Rp17.700 akhir-akhir ini.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama mengatakan aksi pembelian valuta asing (valas) justru berpotensi memperparah volatilitas kurs karena memicu lonjakan permintaan yang tidak didasarkan pada kebutuhan riil.

"Kalau kamu masih butuhnya nanti, enggak usah kamu beli sekarang,” kata Ruth di Makassar, Sulawesi Selatan pada Jumat, 22 Mei 2026.


Menurutnya, fenomena kepanikan di pasar valas saat ini mirip dengan perilaku panic buying masyarakat pada masa awal pandemi Covid-19.

Menurut Ruth, pola kepanikan tersebut kini mulai terjadi di pasar valuta asing. Salah satunya terlihat dari masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam Dolar AS, seperti orang tua dengan anak yang berkuliah di luar negeri maupun pelaku usaha importir.

Ia menjelaskan, tren pelemahan Rupiah membuat banyak pihak khawatir biaya kebutuhan mereka akan semakin mahal di masa mendatang sehingga memilih membeli dolar lebih cepat.

“Nasabahnya punya kewajiban membayar valuta asing karena dia impor atau anaknya sekolah di luar negeri, katakanlah gitu. Dengan tren pelemahan misalnya, dia langsung pikir nanti kalau Rupiah melemah terus gimana gitu,” katanya.

Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas Dolar AS di dalam negeri tetap aman. Ruth menegaskan pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer maupun Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.

Menurut dia, sistem perdagangan valas nasional tetap berjalan normal karena setiap kenaikan permintaan akan diimbangi oleh pasokan yang cukup dari pasar maupun bank sentral.

“Pada dasarnya kalau saya boleh mengatakan harusnya likuiditas terhadap Dolar yang dibutuhkan oleh money changer atau KUPVA saat ini harusnya ada, dan Bank Indonesia juga kan meyakinkan ya bahwa likuiditasnya itu pasti ada gitu,” tegasnya.

Saat ini, BI, kata Ruth terus melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak mengalami pelemahan berkepanjangan. 

Di saat bersamaan, masyarakat diminta tetap tenang dan membeli dolar sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan psikologis pasar.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya