Berita

Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad) 98. (Foto: Istimewa)

Politik

Komrad 98: Reformasi Belum Sepenuhnya Hadirkan Keadilan Sosial

KAMIS, 21 MEI 2026 | 13:03 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perkembangan demokrasi di Indonesia dinilai mengalami kemajuan di 28 tahun pasca Reformasi 1998. Namun di sisi lain, cita-cita menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat disebut masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

Menurut jurubicara Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad) 98, Asep Nurdin, reformasi berhasil membuka ruang kebebasan sipil, memperluas demokrasi, dan mengakhiri otoritarianisme Orde Baru. Namun di sisi lain, kekuasaan ekonomi dan politik dinilai masih terkonsentrasi pada kelompok elite dan oligarki.

“Demokrasi memang tumbuh, tetapi ketimpangan ekonomi, konflik agraria, lemahnya perlindungan buruh, hingga persoalan HAM masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa,” ujar Asep dalam keterangannya, Kamis, 21 Mei 2026.


Ia menilai tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menjaga demokrasi prosedural, melainkan memastikan demokrasi mampu menghadirkan kesejahteraan, perlindungan hak rakyat, dan pemerataan pembangunan.

Asep juga menyoroti pentingnya evaluasi terhadap pejabat dan institusi negara yang dinilai tidak mampu menjalankan agenda kesejahteraan rakyat secara konsisten. Sebaliknya, lembaga yang berkaitan dengan pelayanan publik, HAM, demokrasi, dan pengawasan sosial perlu diperkuat.

Dalam bidang ekonomi, Komrad 98 memandang pertumbuhan nasional belum sepenuhnya dirasakan masyarakat kecil. Buruh, petani, nelayan, dan pekerja informal masih menghadapi ketidakpastian hidup akibat rendahnya perlindungan sosial, mahalnya biaya hidup, hingga ancaman PHK.

“Pembangunan tidak boleh hanya mengejar investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi harus diukur dari kualitas hidup rakyat,” katanya.

Selain itu, Komrad 98 juga menyoroti polarisasi sosial, intoleransi, disinformasi digital, hingga lemahnya penegakan hukum dan penyelesaian kasus HAM yang dinilai masih menjadi tantangan Reformasi hingga hari ini.

Menurut Asep, Reformasi tidak boleh kehilangan arah dan harus tetap berpijak pada cita-cita keadilan sosial, demokrasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

“Indonesia tidak boleh kehilangan persatuan, akal sehat, dan keberpihakannya kepada rakyat kecil,” pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya