Berita

Diskusi bertajuk 'Menyoal Dewan Pertahanan Nasional: Bahaya Pergeseran Fungsi Eksekutif Presiden dalam Desain Pertahanan Negara' yang digelar di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Urgensi DPN Dipertanyakan di Tengah Beban APBN

KAMIS, 21 MEI 2026 | 03:28 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat meninjau ulang urgensi Dewan Pertahanan Nasional (DPN) demi efisiensi anggaran negara di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.

Hal ini mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Menyoal Dewan Pertahanan Nasional: Bahaya Pergeseran Fungsi Eksekutif Presiden dalam Desain Pertahanan Negara” bersama sejumlah akademisi yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.

Akademisi Ilmu Hukum Universitas Binus, Muhammad Reza Syarifuddin Zaki menilai, pemerintah perlu melakukan kajian mendalam melalui Regulatory Impact Assessment (RIA) untuk mengukur kemanfaatan DPN bagi publik saat ini.


"Langkah ini berguna untuk mendeteksi apakah kelembagaan tersebut kontekstual dengan kondisi hari ini, terutama saat nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi masyarakat sedang menghadapi tekanan," ujar Reza Zaki.

Reza juga menyoroti hak keuangan DPN yang diatur dalam Pasal 32 Perpres pembentukan lembaga tersebut. Menurutnya, pembiayaan lembaga baru yang bersumber dari APBN berpotensi mengurangi porsi anggaran untuk sektor publik yang lebih mendesak, seperti pendidikan dan pembangunan.

"Harus ada pergeseran cara berpikir agar tidak selalu merespons setiap persoalan dengan membentuk institusi baru. Penghematan anggaran jauh lebih krusial agar dana negara bisa dialokasikan langsung untuk program yang menyentuh masyarakat, seperti beasiswa dan bantuan kesehatan," jelasnya.

Selain masalah anggaran, posisi Menteri Pertahanan yang merangkap sebagai Ketua Harian DPN juga dinilai memicu potensi dualisme kewenangan.

Reza berpendapat, koordinasi lintas sektor bidang hukum dan pertahanan sebenarnya sudah cukup dioptimalkan melalui kementerian koordinator yang ada.

"Presiden memiliki banyak Menko yang bisa dimanfaatkan, sehingga fungsi koordinasi tidak perlu tumpang tindih dengan lembaga baru," tambahnya.

Senada dengan Reza, Akademisi Universitas Nasional (Unas), Firdaus Syam mengingatkan pentingnya menjaga komitmen good governance dan clean governance yang menjadi amanat Reformasi 1998.

Menurut Firdaus, tren sistem demokrasi modern justru mengarah pada perampingan struktur lembaga negara demi efektivitas birokrasi, bukan sebaliknya.

"Di banyak negara maju, struktur penopang eksekutif dibuat sangat ramping. Sementara di Indonesia, struktur kabinet sudah cukup besar, dan kehadiran DPN dikhawatirkan membuat birokrasi kita semakin gemuk," kata Firdaus.

Lebih lanjut, Firdaus mengkritisi Pasal 3 huruf F dalam Perpres DPN yang menyebutkan bahwa lembaga ini dapat menjalankan fungsi lain sesuai perintah Presiden.

Aturan ini dinilai multitafsir dan membuka celah tumpang tindih kewenangan dengan institusi lain, seperti TNI yang sejak awal memiliki fungsi melekat di bidang pertahanan negara.

Ia menyarankan agar mandat DPN terkait urusan geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi diserahkan sepenuhnya kepada para ahli di bidangnya masing-masing secara profesional.

"Karena adanya pasal yang multitafsir dan kekhawatiran perluasan makna pertahanan ke ranah sipil, publik perlu memberikan masukan yang konstruktif. Tujuannya jelas, agar efisiensi anggaran dan roda pemerintahan dapat berjalan dengan optimal," pungkas Firdaus.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya