Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Wall Street Loyo Tertekan Sektor Teknologi dan AI

SELASA, 19 MEI 2026 | 08:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Wall Street kembali bergerak melemah setelah tekanan besar di saham-saham teknologi memicu aksi jual selama dua hari berturut-turut. 

Dikutip dari CNBC International, Selasa 19 Mei 2026, pada penutupan Senin, indeks S&P 500 turun 0,07 persen, sementara Nasdaq Composite yang dipenuhi saham teknologi melemah lebih dalam sebesar 0,51 persen. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 159,95 poin atau 0,32 persen.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Saham Seagate Technology anjlok hampir 7 persen setelah CEO Dave Mosley memperingatkan pembangunan fasilitas baru untuk memenuhi lonjakan permintaan AI membutuhkan waktu lama. Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar bahwa industri chip dan pusat data dapat menghadapi keterbatasan pasokan di tengah booming AI.


Sentimen negatif tersebut ikut menyeret saham Micron Technology dan sejumlah saham terkait AI lainnya yang turun hampir 6 persen. Pelemahan saham teknologi ini menjadi faktor utama yang membebani Nasdaq dan menahan penguatan pasar secara keseluruhan.

Meski Wall Street baru saja mencatat reli kuat dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah analis mulai melihat tanda-tanda pasar terlalu panas. Pekan lalu, S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi baru, sedangkan Dow Jones kembali menembus level 50.000 poin.

Kepala riset dan strategi makro Schwab Center for Financial Research, Kevin Gordon, menilai reli besar Wall Street kemungkinan mulai mendekati batasnya.

“Dari sudut pandang posisi pasar dan kondisi yang sudah terlalu panas, kemungkinan kita tidak akan lagi melihat reli setajam sebelumnya,” ujarnya.

Di luar pasar saham, investor juga memperhatikan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan lonjakan suku bunga hipotek 30 tahun ke level tertinggi sejak Juli 2025. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih mahal dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya