Berita

Ilustrasi diplomat dan politikus Italia, Niccolo Machiavelli. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Tagihan Kekuasaan Machiavelli

KAMIS, 14 MEI 2026 | 21:11 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

NAFSU kuasa! Dalam banyak diskusi, Niccolo Machiavelli sering muncul sebagai kambing hitam. Istilah Machiavellian kadung menjadi sinonim kelicikan, pengkhianatan, dan nafsu kekuasaan yang menghalalkan segala cara (Attahahara, 2020). Benarkah sang Sekretaris Florentine ini adalah guru bagi para tiran? Perlu disingkap lapis demi lapis pemikirannya.
 
Konteks kehidupan Machiavelli berada di setting era Italia tercabik perang saudara dan intervensi asing. Pengalaman traumatis membentuk keyakinan, stabilitas negara (la stato) adalah harga mati (Skinner, 1981). Tanpa negara yang stabil, hukum dan kebebasan sipil hanya mimpi.
 
Melalui karya terkenalnya Il Principe, menjadi obat keras, panduan bagi pemimpin untuk bertindak tegas bahkan keras di masa krisis, demi menyelamatkan kepentingan publik.
 

 
Distingsi krusial yang luput dari pengamatan publik, adalah perbedaan antara sosok Pemimpin dan Tuan (tiran). Bagi Machiavelli, pemimpin bertindak demi kemuliaan (glory) yang diukur dari kemampuan menjamin keselamatan warga negara. Sebaliknya, Tuan atau tiran bertindak hanya demi ambisi pribadi dan kekayaan faksi (Viroli, 1998).
 
Dengan tegas, Machiavelli mengkritik tokoh Agathocles dari Sisilia, yang meskipun berkuasa, tidak pernah mendapatkan kemuliaan, karena tindakannya yang membantai sesama warga negara tanpa tujuan keselamatan umum (Vujadinovic, 2014).
 
Relevansi pemikiran ini sangat tajam, untuk mengkritik politik kepentingan yang menjangkiti demokrasi kita saat ini. Sering kali, kekuasaan dijalankan bukan sebagai mandat untuk melayani publik (res publica), melainkan sebagai alat bagi segelintir elit atau faksi untuk mengamankan posisi mereka (Vano, 2024).
 
Dalam perspektif Machiavelli kondisi ini disebut sebagai lizenzia -pembusukan di mana hukum menjadi instrumen untuk menindas lawan politik dan menguntungkan kroni.
 
Pada karya lain, Discorsi, Machiavelli memuji konflik sosial antara rakyat dan elit, asalkan dikelola melalui hukum yang adil. Selaras pendapatnya, bahwa kebebasan lahir bukan dari ketenangan semu, melainkan dari gesekan yang memicu lahirnya konstitusi yang melindungi rakyat dari dominasi kaum kuat (Zuckert, 2017).
 
Baginya, rakyat adalah penjaga kebebasan yang lebih baik daripada kaum elite, karena rakyat hanya ingin tidak ditindas, sementara elite selalu ingin mendominasi (Skinner, 1990).
 
Etika Machiavelli, sebenarnya adalah etika tanggung jawab. Seolah menantang para penguasa: beranikah Anda mengotori tangan dengan keputusan sulit demi mencegah kehancuran bangsa, ataukah Anda lebih memilih tampak suci namun membiarkan negara jatuh ke jurang kekacauan?
 
Pemimpin yang tidak tegas, karena takut dicap buruk secara moral privat, sementara negaranya sedang terancam, justru dianggap tidak etis dalam kacamata politik (Berlin, 1972).
 
Kini, saatnya menagih kembali etika kekuasaan. Politik seharusnya bukan ajang transaksional antar-faksi yang menguras energi bangsa. Dibutuhkan pemimpin yang memiliki virtu -kecakapan dan keberanian, menempatkan kepentingan publik di atas segalanya (Mansfield, 1996).
 
Machiavelli mengingatkan, bahwa kekuasaan tanpa komitmen pada kebaikan bersama bukanlah kemuliaan, melainkan sekadar kehinaan yang menunggu waktu untuk runtuh.
 
Pesan utamanya terang benderang, jangan menjadi Tuan yang memperbudak publik demi kepentingan kelompok. Maka jadilah Pemimpin yang membangun institusi secara adil, dan melayani semua.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa lama berkuasa, melainkan seberapa besar mampu menjaga kebebasan dan martabat rakyatnya (Viroli, 2000).

Penulis Tengah Menempuh Pendidikan Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya