Berita

Anggota DPRD Jember, Achmad Syahri Assidiqi. (Foto: Dok. DPRD Jember)

Publika

Jadi Aib Partai, Pecat Achmad Syahri Assidiqi!

KAMIS, 14 MEI 2026 | 17:00 WIB

ACHMAD SYAHRI ASSIDIQI Anggota DPRD  Jember, bukan hanya mengkhianati rakyat, sudah menjadi aib partainya sendiri. 

Jumat esok 15 Mei 2026 akan disidang DPP Gerindra. Berharap ia dipecat, setuju ndak? 

Senin 11 Mei 2026, Komisi D DPRD Jember sedang membahas hal-hal yang sangat tidak cocok untuk dijadikan bahan bercanda: BPJS, kesehatan rakyat, stunting, masa depan anak-anak. 


Di ruangan itu mungkin ada orang serius bicara soal gizi buruk. Tapi Syahri justru sibuk menatap layar HP seperti dukun crypto kehilangan sinyal. Jarinya menari. Rokok mengepul.

Mungkin dia sedang panik karena desa virtualnya diserang musuh. Sebab jelas, penderitaan rakyat kalah penting dibanding mempertahankan balai kota level 13.

Beginilah nasib demokrasi Indonesia. Rakyat antre di TPS berjam-jam demi memilih wakil rakyat. Eh yang terpilih malah kelakuannya seperti bocah rental PS yang kabur belum bayar mi gelas.

Video itu meledak lebih cepat dari janji politik menjelang pemilu. Netizen ngamuk. Bukan marah biasa. Ini marah bercampur malu, jijik, pengin ketawa, tapi juga pengin lempar sandal ke monitor. 

Kacong bayangkan, betapa absurdnya negeri ini. Rapat kesehatan diasapi rokok oleh anggota dewan sambil main game perang. Ini seperti tukang damkar datang memadamkan api sambil bawa flamethrower.

Gerindra langsung gercep. Ya jelas panik. Kalau tidak cepat bergerak, citra partai bisa ambruk seperti pagar proyek yang dikerjakan kontraktor sepupu pejabat. 

Majelis Kehormatan Partai di bawah Habiburokhman langsung kirim surat panggilan resmi. Jumat 15 Mei 2026 pukul 14.00 WIB, Syahri bakal disidang di DPP Gerindra Ragunan.

Tapi rakyat sudah kenyang drama politik. Publik hafal alur sinetronnya. 

Awalnya tegas di kamera. Setelah itu masuk ruang tertutup. Lalu keluar dengan wajah serius sambil bilang, “Yang bersangkutan sudah meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi.” Tamat. 

Besoknya jabatan aman, fasilitas jalan terus, rakyat disuruh move on seperti habis diputusin pacar miskin.

Masalahnya, Syahri bukan NPC politik biasa. Dia putra Achmad Fadil Muzakki Syah alias Ra Fadil, mantan anggota DPR yang dulu viral tidur saat rapat DPR. 

Luar biasa. Ayah tidur di parlemen nasional, anak push rank di parlemen daerah. Ini bukan regenerasi politik. Ini pewarisan kutukan keluarga.

Kalau diteruskan, cucunya mungkin nanti rapat sambil buka kasino online.

Inilah penyakit politik paling menjijikkan di negeri ini. Anak pejabat sering merasa kursi kekuasaan adalah ruang keluarga. 

Mereka duduk bukan karena kualitas, tapi karena nama belakang. Rakyat cuma figuran yang tugasnya bayar pajak lalu tepuk tangan saat mereka pura-pura peduli.

Padahal masyarakat Jember sudah muak sampai ubun-ubun. Mereka tidak butuh video klarifikasi pakai backsound piano sedih. 

Tidak butuh permintaan maaf sambil nunduk tiga derajat. Publik ingin tindakan brutal. Pecat. PAW. Copot. Lempar keluar dari kursi DPRD seperti wasit mengusir pemain yang sengaja patahin kaki lawan.

Karena kalau kasus beginian cuma berakhir dengan “teguran keras”, habislah martabat lembaga dewan. Besok-besok akan ada anggota DPRD rapat sambil live TikTok joget velocity. 

Ada yang main slot online saat bahas banjir. Ada yang push Mythic sambil pidato soal kemiskinan. Negeri ini berubah jadi sirkus, dan rakyat dipaksa bayar tiket pertunjukannya lewat pajak.

Achmad Syahri Assidiqi sekarang bukan lagi sekadar anggota dewan. Dia sudah menjelma jadi maskot penghinaan terhadap rakyat. Simbol hidup, sebagian politisi melihat penderitaan masyarakat seperti iklan YouTube, bisa di-skip kapan saja.

Kini publik menunggu satu hal, apakah Gerindra punya nyali membersihkan aib ini sampai akar, atau cuma akan menyemprot pengharum ruangan di atas tumpukan bangkai politik sambil berharap rakyat terlalu miskin untuk marah?

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya