Berita

Prof. Ferry Latuhihin. (Foto: YouTube Forum Keadilan TV)

Bisnis

Ekonom: Pertumbuhan Tinggi Tapi Memiskinkan!

SENIN, 11 MEI 2026 | 04:46 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Banyak ekonom mempertanyakan data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen yang dirilis pemerintah beberapa waktu lalu. Pasalnya, angka pertumbuhan itu tidak menggambarkan kondisi riil perekonomian nasional saat ini.  

Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin menyebut bahwa pertumbuhan yang penuh optimisme bagi pemerintah itu bisa dibilang telah menyengsarakan rakyat.

“Dengan sektor manufacturing yang terus trending down dari 30 persen ke 18 persen, itu sangat dahsyat loh. Yang terjadi apa? Yang terjadi di dalam ilmu ekonomi itu namanya immiserizing growth. Pertumbuhan tinggi tapi memiskinkan,” kata Ferry dikutip dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin, 11 Mei 2026.


Immiserizing growth atau pertumbuhan yang menyengsarakan adalah teori ekonomi yang dipopulerkan oleh Jagdish Bhagwati pada 1958, di mana pertumbuhan ekonomi (peningkatan PDB) justru membuat kesejahteraan negara tersebut menurun dibanding sebelumnya. Ini terjadi ketika keuntungan ekspor hilang akibat penurunan drastis harga komoditas global.  

Ferry mencontohkan fenomena immiserizing growth pernah terjadi di Sulawesi dengan adanya pertambangan nikel.

“Contoh yang paling nyata tuh di Sulawesi pada waktu ada nikel. Pertumbuhan daerah itu 28 persen, 30 persen, (bahkan) 40 persen tuh tapi rakyatnya menderita. Karena pengotoran ya, sampah industri ya. Nelayan yang nggak bisa melaut, petani nggak bisa nyawah. Nah itu yang disebut immiserizing growth,” ungkapnya.

Lanjut dia, fenomena itu juga ditandai dengan adanya deindustrialisasi yang prematur. Menurutnya, penurunan dari 30 persen turun 18 persen sangat besar.

“Itu sudah sangat besar. Padahal kan manufacturing ya, sektor pengolahan itu kan yang menciptakan value added, yang menciptakan tenaga kerja atau labor, kalau ini turun terus, nah sekarang masalahnya, pertumbuhan yang tinggi itu dinikmati oleh siap?” tegasnya.

“Kita lihat juga bagaimana middle income class kita dari 57 juta (orang) jatuh ke 46 juta, kan makin miskin,” tandas Ferry.  

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Sidang 6 Agustus Bukan Kemenangan yang Dianulir

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:05

Jakarta Libatkan Kawasan Aglomerasi dalam Lestarikan Budaya Betawi

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:01

Pengurangan Timbulan Sampah Plastik Bisa Dimulai dari Pasar Tradisional

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:44

Timnas Garuda Bidik Tiga Poin dari Timor Leste

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:17

Hariman hingga Bursah Zarnubi Ramaikan Peluncuran Enam Buku Isti Nugroho

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:00

Wakapolri-Wamenhut Konsolidasi Hadapi El Nino dan Karhutla

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:23

Pembunuh Perempuan di Kamar Kos di Grogol Petamburan Dibekuk

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:13

Fahira Idris Sodorkan Tujuh Rekomendasi Bangun Jakarta

Jumat, 31 Juli 2026 | 02:02

Kawasan Transmigrasi Harus Punya Daya Tarik Investasi

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:39

Peluncuran Enam Buku

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:28

Selengkapnya