Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Dunia

Konflik AS-Iran Mendorong Harga Pangan Global ke Level Tertinggi

SABTU, 09 MEI 2026 | 13:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga pangan global hingga mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. 

Berdasarkan laporan indeks harga komoditas pangan PBB yang dirilis pada Jumat 8 Mei 2026, terjadi kenaikan sebesar 1,6 persen sepanjang April lalu yang didorong oleh melambungnya harga minyak nabati, daging, serta serealia. 

Dikutip dari Reuters, secara tahunan, angka ini tercatat 2,5 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.


Kondisi ini merupakan dampak langsung dari penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung selama tiga bulan. Blokade jalur laut tersebut secara efektif menghambat distribusi input pertanian krusial seperti solar dan pupuk. 

Sektor minyak nabati menjadi yang paling terdampak dengan lonjakan mencapai 5,9 persen akibat kenaikan harga energi yang mengalihkan permintaan ke arah biofuel. 

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menjelaskan bahwa tekanan pada pasar minyak nabati kian berat karena keterkaitannya dengan sektor energi global yang sedang tidak stabil.

Di sektor lain, indeks harga daging berhasil mencetak rekor tertinggi baru, sementara harga serealia terus merangkak naik akibat kekhawatiran cuaca dan proyeksi penurunan luas tanam gandum pada tahun 2026. 

Para petani di pusat produksi Eropa, seperti Prancis dan Rumania, mulai mengurangi intensitas penanaman komoditas yang bergantung tinggi pada pupuk dan solar demi menekan biaya input yang kian mencekik sejak perang pecah pada Februari lalu.

Meskipun saat ini kenaikan baru terlihat pada level komoditas mentah di tingkat petani, para ahli memperingatkan adanya jeda waktu sebelum dampak inflasi ini benar-benar menghantam belanja konsumen ritel. 

Sinyal kenaikan harga selama tiga bulan berturut-turut ini menjadi peringatan nyata bagi pasar global, bahkan saat AS dan Iran sedang mempertimbangkan kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya