Berita

Kegiatan Community Action Plan (CAP) yang digelar KNTI Kota Medan. (Foto: Dokumentasi KNTI)

Nusantara

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

SABTU, 09 MEI 2026 | 04:45 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dewan Pengurus Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Kota Medan menggelar kegiatan Community Action Plan (CAP) atau perencanaan rencana aksi komunitas guna mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi nelayan kecil dan perempuan pesisir.

Wakil Sekretaris KNTI Kota Medan Ahmad Raji mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang partisipatif untuk memetakan dampak sosial, ekonomi, dan ekologis yang dirasakan masyarakat pesisir.

“Kami tengah dihadapkan dalam banyak persoalan di laut maupun di darat. Melalui pertemuan ini kami melakukan pendekatan partisipatif dan sensitif gender,” ujar Raji dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.


Menurut dia, terdapat tiga isu utama yang dinilai mendesak untuk segera direspons pemerintah demi meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil dan perempuan pesisir di Kota Medan.

Pertama, terkait posisi tawar nelayan dalam proses pengambilan kebijakan. Raji menilai nelayan masih kerap tidak dilibatkan dalam penyusunan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.

“Apakah kebijakan sudah sesuai dengan kebutuhan nelayan dan apakah nelayan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan tersebut? Itu yang menjadi perhatian kami,” tegasnya.

Kedua, persoalan krisis iklim yang berdampak terhadap ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. 

Lanjut Raji, perubahan cuaca dan kerusakan ekologis semakin memengaruhi hasil tangkapan nelayan serta kemampuan masyarakat untuk bertahan.

Karena itu, KNTI Medan mendorong pemerintah memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi krisis iklim agar masyarakat pesisir memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap perubahan lingkungan.

Ketiga, menyangkut hak tenurial atau akses terhadap ruang laut dan sumber daya perikanan. KNTI menilai nelayan kecil masih menghadapi ancaman terhadap wilayah tangkap mereka, mulai dari reklamasi hingga persaingan dengan kapal-kapal besar yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan.

“Apakah nelayan terlindungi, apakah nelayan kecil berdaulat di wilayah zona tangkapnya, atau justru alur kapalnya direklamasi dan dihadapkan dengan persaingan kapal besar, terutama yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan,” tandas Raji.

Sementara itu, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Kota Medan Nilawati memaparkan sejumlah persoalan yang dihadapi perempuan pesisir dan keluarga nelayan. Mulai dari persoalan sanitasi, akses air bersih, permukiman, reklamasi, banjir rob, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, hingga pencemaran perairan.

Ia juga menyoroti persoalan keamanan dan maraknya narkoba yang dinilai semakin memperburuk kondisi sosial masyarakat pesisir.

“Ragam persoalan tersebut terjadi dan makin parah dirasakan oleh kami, karena minimnya pelibatan dan keberpihakan kebijakan kepada nelayan kecil dan perempuan pesisir,” ujar Nilawati.

Di sisi lain, Ketua Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) Kota Medan Rais mengatakan, pemuda pesisir masih mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Menurut dia, kondisi ekonomi keluarga nelayan yang terbatas membuat banyak anak pesisir kesulitan melanjutkan pendidikan.

“Karena penghasilan keluarga nelayan yang pas-pasan, keluarga nelayan kesulitan menyekolahkan anak-anaknya. Sementara itu, banyak perusahaan yang memadati wilayah pesisir, namun tidak menyerap tenaga kerja muda dari pesisir,” kata Rais.

Melalui agenda CAP tersebut, KNTI Medan berharap aspirasi nelayan kecil dan perempuan pesisir dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat pesisir.


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya