Berita

Direktur AEPI, Salamuddin Daeng. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

JUMAT, 08 MEI 2026 | 19:11 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

INTERNATIONAL Monetary Fund (IMF) membuat data bahwa GDP (Gross Domestic Product) real berdasarkan negara menggambarkan Tahun 2026 negara berkembang rata-rata tumbuh 3,9%, negara maju rata-rata tumbuh 1,8%, dunia rata-rata tumbuh 3,1%.

Angka ini adalah yang terbaik yang dapat diperoleh dunia dalam situasi gejolak, konflik dan perang. Dunia masih tumbuh itu sudah bagus. Sebab dunia telah mengalami pertumbuhan negatif pada masa krisis Covid-19 beberapa waktu lalu.

Nah Indonesia sudah sangat bagus. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (YoY). Karena itu Indonesia berada di atas rata rata pertumbuhan ekonomi global.


Mengapa hal ini secara mudah dan gampang dipahami sehingga dikatakan bagus? Karena berada di atas rata-rata yang lain, berada di atas rata-rata yang mampu dunia capai sejauh ini untuk keluar dari kemelut perang selat Hormuz dan dampak Covid-19.

Secara awam jika di atas rata-rata itu malah disebut hebat. Contoh sederhana adalah jika nilai anak anda di sekolahan SD, SMP, atau SMU, berada di atas rata-rata kelas, maka anak anda termasuk hebat, bagus, dan berprestasi.

Asal berada di atas rata-rata kelas, maka sudah lebih baik dari yang lain. Nah kalau menurut data IMF ini maka Indonesia termasuk pintar, bagus, dan excellent.

Mengenai data pertumbuhan ekonomi  Indonesia silakan saja diperdebatkan apakah 5% mentok atau 5,6%. Namun walaupun ternyata benar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma 5% sekalipun, tetap saja Indonesia ini kategorinya bagus karena berada di atas rata-rata kelas, berada di atas rata-rata dunia.

Namun yang namanya data yang diperoleh oleh hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, tidak bisa diperdebatkan dengan data berdasarkan perasaan atau feeling.

Misalnya dengan mengatakan "Kok bisa pertumbuhan ekonomi besar? perasaan saya lebaran sepi, perasaan saya tahun baru sepi, perasaan saya puasa orang menahan belanja? Padahal ekonomi indonesia 65 persen dikontribusikan oleh konsumsi, bukankah banyak orang sedang kere?" Main perasaan begini tidak bagus.

Apabila data hasil survei BPS yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6% digugat atau tidak mau disyukuri, maka sebaiknya menggunakan data survei yang sebanding, misalnya BPS Singapore, atau dilakukan World Bank atau Bank Dunia, barulah menjadi perdebatan yang menarik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 ini memang menarik, dan bisa jadi pelajaran berharga. Mengapa kalau negara lain perang Indonesia untung dari dagang. Karena Indonesia dagang komoditas yang harganya juga naik tinggi.

Harga CPO naik, harga batubara naik, harga nikel naik. Nah kecuali memang kementerian ESDM memainkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), untuk menghalang-halangi produksi dan ekspor komoditas, atau tujuan lainnya dari pejabat ESDM, barulah masalah.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya