Berita

Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini (Foto: Situs Nasdemdprri)

Politik

Begini Saran Komisi I DPR agar Pemerintah Tak Dianggap Kooptasi New Media

JUMAT, 08 MEI 2026 | 08:20 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Komisi I DPR RI mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam membangun komunikasi publik dengan media digital baru atau new media yang belakangan dikenal sebagai Homeless Media. 

Langkah pemerintah dinilai tidak boleh sampai menimbulkan kesan kooptasi terhadap independensi media.

Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraini, menilai kemunculan media digital baru menunjukkan perubahan cepat dalam ekosistem informasi nasional. Karena itu, pendekatan pemerintah terhadap media baru harus dilakukan secara proporsional dan transparan.


Menurut Amelia, pemerintah memang perlu membangun komunikasi publik yang efektif melalui berbagai kanal baru, mulai dari media digital, komunitas kreator, hingga platform berbasis audiens. Namun pola komunikasi tersebut tidak boleh menimbulkan persepsi adanya intervensi terhadap independensi media.

“Pemerintah tentu perlu membangun komunikasi publik yang efektif dengan berbagai kanal baru, termasuk media digital, komunitas kreator, dan platform berbasis audiens,” ujar Amelia kepada RMOL, Jumat 8 Mei 2026

“Namun langkah itu harus dilakukan secara hati-hati, proporsional, dan transparan agar tidak menimbulkan persepsi kooptasi atau intervensi terhadap independensi media,” sambungnya.

Amelia menilai klarifikasi dari sejumlah media digital terkait isu kedekatan dengan pemerintah maupun Badan Komunikasi (Bakom) RI merupakan hal yang wajar. Sebab, sebagian besar media baru saat ini membangun kepercayaan publik melalui citra independen dan kedekatan dengan audiens mereka.

“Karena itu, ketika muncul persepsi ‘direkrut’ atau ‘menjadi mitra pemerintah’, tentu mereka merasa perlu menjelaskan posisi mereka secara terbuka kepada publik,” kata politikus Partai NasDem tersebut.

Ia pun mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam penggunaan istilah, mekanisme komunikasi, hingga pencantuman nama media dalam program komunikasi publik. Jangan sampai upaya memperkuat komunikasi pemerintah justru memunculkan kesan adanya pengelompokan media tertentu sebagai corong pemerintah.

“Jangan sampai niat membangun komunikasi publik justru menimbulkan kesan adanya kooptasi atau pengelompokan media tertentu sebagai corong pemerintah,” tegasnya.

Amelia menilai negara memang tidak boleh membiarkan ruang digital berkembang tanpa akuntabilitas. Namun di sisi lain, pemerintah juga tidak boleh terlalu mencengkeram media baru yang tumbuh secara organik di tengah masyarakat.

Ia membandingkan media konvensional yang selama ini telah memiliki mekanisme checks and balances melalui Dewan Pers, KPI, AJI, kode etik jurnalistik, hingga struktur redaksi yang jelas. Sementara dalam ekosistem media baru, batas-batas tersebut masih terus berkembang dan membutuhkan penataan yang cermat.

“Di sinilah diperlukan penataan yang cermat, bukan pendekatan yang tergesa-gesa,” ujarnya.

Bagi Komisi I DPR RI, lanjut Amelia, situasi tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPR terhadap pemerintah, khususnya dalam memastikan komunikasi publik tetap berjalan dalam koridor demokrasi, transparansi, dan penghormatan terhadap independensi media.

Ia juga menilai regulasi perlu segera menyesuaikan perkembangan ekosistem media saat ini. Pasalnya, batas antara media, kreator konten, citizen journalism, komunitas digital, dan platform informasi kini semakin tipis.

Meski demikian, Amelia mengingatkan agar pembaruan regulasi tidak berubah menjadi hyper regulation yang berlebihan dan justru menghambat kebebasan digital.

“Prinsipnya, jangan ada yang berada di atas hukum, tetapi negara juga tidak boleh hadir secara berlebihan sampai mematikan partisipasi publik dan inovasi media baru,” pungkasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya