Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Purbaya Geram Kebijakan Fiskal Dituding jadi Penyebab Rupiah Jeblok

RABU, 06 MEI 2026 | 18:58 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku kesal kebijakan fiskalnya dituding menjadi penyebab nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.

"Saya sebel sama yang bilang gara-gara fiskal rupiah jeblok," kata Purbaya di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menjelaskan, pemerintah justru telah berhasil mengelola APBN lebih baik dibanding sebelumnya. Selain itu, Purbaya juga mengungkit strateginya dalam memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan dengan tujuan menggerakan perekonomian tanpa adanya modal tambahan.


"Kamu tau kenapa ekonomi bisa tumbuh lebih cepat? kita manage uang lebih bagus. Jangan cuman pindahin cash aja dari BI ke situ, ekonomi tumbuh lebih cepat dan kita jaga itu. Tapi uangnya masih punya saya kan?" ujarnya.

Purbaya menekankan, pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa harus menambah belanja secara berlebihan, sehingga kondisi fiskal tetap terjaga.

"Artinya apa? Saya, kita, pemerintah Pak Prabowo bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat tanpa pengeluaran uang tambahan. Uangnya masih utuh, itu ajaib sebetulnya," tuturnya.

Ia pun menilai kritik terhadap kebijakan fiskal pemerintah tidak tepat sasaran dan menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap strategi yang dijalankan.

"Jadi yang kritik kebijakan fiskal kita aneh, dia ga mengerti apa yang kita kerjakan," tegasnya.

Purbaya juga mengatakan yang berwenang atas kebijakan rupiah adalah otoritas moneter, yaitu Bank Indonesia (BI).

"Rupiah tanya ke bank sentral," tandasnya.

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 tercatat tumbuh 5,61 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Covid-19.

Sebelumnya, kritik mengenai anjloknya nilai tukar rupiah yang disebabkan oleh keraguan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia disampaikan Guru Besar sekaligus Pakar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi.

Dia mengatakan, dari segi kebijakan moneter, sejauh ini pihaknya tidak melihat adanya masalah lantaran pihak otoriter sudah melakukan pakem yang tepat, dan tidak bisa terus menerus melakukan intervensi lantaran dapat berdampak pada penggerusan cadangan devisa.

"Terkait rupiah yang semakin tertekan, semua ekonom sepakat ini karena ketidakpercayaan Investor terhadap fiskal kita," jelas Rahma dalam pernyataan tertulis, Selasa, 5 Mei 2026.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya