Berita

Ade Armando mengumumkan mundur dari PSI. (Foto: Istimewa)

Publika

Drama Ade Armando Belum Selesai

RABU, 06 MEI 2026 | 02:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

DI Jepang, orang mundur karena merasa bersalah itu hal biasa. Di sini? Mundur itu kayak “olok-olok” kata budak Pontianak. 

Contoh paling sinematik datang dari kisah di Agrinas Pangan Nusantara, dengan Direktur Utama, Joao Angelo de Sousa Mota. Merasa tak ada kerja, ia memilih mundur. 

Sempat saya kasih gelar, “Bapak Mundur Indonesia.” Eh..beberapa bulan kemudian, ia masih menjabat direktur utama. Sekarang malah sibuk ngurus KDMP dan impor pikap India.


Lalu muncullah episode terbaru dari serial panjang “Mundur Itu Seni,” dibintangi oleh Ade Armando. 

Dengan suara serius dan ekspresi “ini bukan prank, sumpah” menyatakan mundur dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Katanya demi kebaikan bersama. Kalimat yang di telinga publik terdengar seperti, “tenang, ini demi semua,” tapi di hati kecil rakyat, “ini bakal ada season 2 nggak sih?”

Ade mundur bukan karena kehabisan kopi atau kuota internet, tapi karena polemik video ceramah Jusuf Kalla yang dipotong seperti kue ulang tahun tapi lupa dibagi rata. 

Potongan itu lalu berubah jadi badai. Badai di negeri ini punya kebiasaan unik. Bukan cuma menerbangkan daun, tapi juga menyeret partai, tokoh, bahkan tetangga sebelah yang cuma lewat.

Dengan penuh penegasan, Ade bilang ini kerja jurnalistik pribadinya di Cokro TV, bukan titipan partai. 

PSI disebut tidak tahu-menahu. Kalau dianalogikan, seperti orang tua yang baru sadar anaknya ikut lomba debat nasional setelah sudah masuk final. Tidak ada briefing, tidak ada restu, tahu-tahu sudah viral dan semua orang ikut nimbrung.

Lalu datanglah tekanan dari berbagai arah. Termasuk laporan dari puluhan ormas yang membuat suasana makin mirip konser rock tanpa panitia. 

Di titik inilah Ade memilih mundur. Sebuah langkah yang, di atas kertas, terlihat elegan. Tapi publik kita sudah terlalu kenyang dengan drama untuk langsung percaya. 

Karena pengalaman mengajarkan, “mundur” di sini kadang bukan gerakan menjauh, tapi sekadar geser posisi kamera.

Yang bikin cerita ini makin kaya rasa adalah flashback ke tahun 2022. Ini semacam prekuel yang tidak kalah seru. 

Waktu itu, Ade Armando sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan ujaran kebencian terkait agama berdasarkan UU ITE. 

Konteksnya klasik. Kritik terhadap kelompok Islam konservatif. Di negeri ini efeknya bisa seperti menyalakan petasan di dalam lemari pakaian. Kecil, tapi dampaknya ke mana-mana.

Kasus itu sempat ramai. Headline di mana-mana. Netizen berdebat seperti komentator bola yang tidak pernah salah. 

Tapi kemudian… ya begitu. Tidak berlanjut ke tahap penahanan. Menguap pelan-pelan, seperti janji diet yang hanya bertahan sampai lihat gorengan. 

Publik pun belajar satu hal penting. Di negeri ini, tidak semua yang meledak akan benar-benar meletus.

Maka ketika Ade sekarang bilang mundur, publik otomatis membuka folder lama di otak mereka, “ini yang dulu itu ya?” 

Bukan untuk menghakimi, tapi karena memori kolektif kita sudah seperti Google Drive, semua tersimpan, tinggal diketik sedikit langsung muncul.

Di sisi lain, keputusan mundur ini tetap menarik. Ada nuansa tanggung jawab, ada aroma strategi, ada juga sentuhan “biar partai tidak ikut kebakar.” 

PSI menerima dengan lapang dada, seperti tuan rumah yang melepas tamu yang tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga tapi tetap disalami dengan sopan.

Namun yang paling absurd dari semuanya adalah bagaimana publik menyikapinya. Tidak lagi kaget, tidak lagi marah berlebihan, tapi lebih ke mode standby, menonton, mencatat, lalu menunggu. 

Karena di negeri ini, pengunduran diri bukan akhir cerita. Itu baru jeda iklan.

So, apakah ini benar-benar mundur? Atau sekadar mundur satu langkah untuk maju dua langkah di episode berikutnya? 

Tidak ada yang tahu. Yang jelas, rakyat sudah siap dengan Koptagul. Karena kalau ada satu hal yang pasti, drama belum selesai.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya