Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Publika

Modantara dan Ketakutan yang Dibungkus Argumen Ekonomi

SENIN, 04 MEI 2026 | 20:36 WIB

PERNYATAAN Direktur Eksekutif Modantara, Agung Yudha, yang mengkhawatirkan kebijakan pemotongan aplikator menjadi 8 persen justru membuka tabir lama ketakutan pelaku industri kehilangan margin keuntungan yang selama ini dinikmati tanpa distribusi keadilan yang proporsional.

Selama ini, siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dalam ekosistem transportasi online? Apakah pengemudi? Atau platform?

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa platform telah memainkan algoritma harga yang tidak transparan. Pada jam tertentu, harga melonjak tinggi. 


Pada pengguna tertentu juga, tarif berbeda. Diskon besar diberikan kepada pengguna baru, sementara pengguna lama “diperas” secara halus. Ini bukan sekadar strategi bisnis ini adalah bentuk eksploitasi berbasis data.

Transportasi online hari ini bukan lagi industri rintisan yang rapuh. Ia sudah menjadi kebutuhan massal, hadir di hampir seluruh kota di Indonesia, dan menjadi tulang punggung mobilitas serta logistik masyarakat. Maka, tidak relevan lagi jika narasi “industri masih butuh perlindungan” terus dijadikan tameng untuk mempertahankan potongan tinggi.

Hitungan Sederhana, Keuntungan Luar Biasa

Mari gunakan logika paling sederhana tanpa perlu menjadi ekonom. Jika benar terdapat minimal 2 juta pengemudi aktif, dan masing-masing menghasilkan Rp50.000 per hari, maka perputaran uang mencapai Rp100 miliar per hari. Dengan potongan 8 persen, aplikator masih meraup sekitar Rp8 miliar per hari. Rp8 miliar per hari.

Dalam sebulan? Rp240 miliar. Dalam setahun? Triliunan rupiah. Itu diambil dari pengguna aktif minimal, dengan pendapatan paling kecil.

Lalu, di mana letak “ancaman krisis” yang disebutkan oleh Modantara? Atau jangan-jangan, yang terancam bukan keberlanjutan industri, melainkan penurunan profit yang selama ini terlalu besar?

Neoliberalisme dan Ilusi Efisiensi

Dalam perspektif ekonomi politik, argumen Modantara sangat kental dengan semangat neoliberalisme sebuah turunan dari kapitalisme modern yang menekankan: Deregulasi pasar; Minimnya intervensi negara; dan Maksimalisasi keuntungan korporasi

Teori ini dapat ditelusuri dari pemikiran Milton Friedman yang menempatkan pasar sebagai mekanisme paling efisien tanpa perlu banyak campur tangan negara.

Namun dalam praktiknya, neoliberalisme justru menciptakan: Ketimpangan pendapatan; Eksploitasi tenaga kerja fleksibel; dan Ketergantungan pada platform digital.

Dalam konteks ojol, pengemudi diposisikan sebagai “mitra”, tetapi tidak memiliki kekuatan tawar. Mereka tidak menentukan tarif. Mereka tidak mengontrol sistem. Bahkan mereka tidak punya kepastian pendapatan. Ini bukan kemitraan. Ini subordinasi dalam bungkus digital.

Kapitalisme Platform Menjaga Strata Sosial

Kapitalisme modern khususnya kapitalisme platform bekerja dengan cara mempertahankan stratifikasi: Platform sebagai pemilik kapital dan teknologi. Pengemudi sebagai tenaga kerja fleksibel tanpa perlindungan penuh. Konsumen sebagai objek monetisasi data.

Dalam teori kapitalisme global, kondisi ini disebut sebagai “asimetri kekuasaan digital”, di mana kontrol berada di tangan segelintir korporasi.

Maka wajar jika setiap kebijakan yang mencoba mendistribusikan ulang keuntungan akan langsung dilawan dengan narasi “krisis”.

Kebijakan Presiden Bukan Keputusan Sembrono

Perlu digarisbawahi, kebijakan Presiden Prabowo Subianto bukanlah keputusan emosional atau populis semata. Negara hadir untuk memastikan keseimbangan.

Bahkan, langkah strategis yang disampaikan oleh Sufmi Dasco Ahmad mengenai kemungkinan keterlibatan negara melalui Danantara dalam kepemilikan saham aplikator menunjukkan bahwa pemerintah tidak anti-investasi, tetapi ingin memastikan keadilan distribusi ekonomi.

Ini adalah bentuk intervensi negara yang progresif, bukan ancaman bagi industri.

Bukan Industri yang Takut, Tapi Penyusutan Keuntungan 

Kekhawatiran Modantara bukanlah tentang keberlangsungan ekosistem. Itu adalah kekhawatiran klasik dari pelaku usaha yang selama ini menikmati margin tinggi dan enggan berbagi. Kebijakan 8 persen bukan ancaman.

Justru itu adalah koreksi. Koreksi terhadap sistem yang terlalu lama timpang. Koreksi terhadap relasi yang tidak adil. Dan koreksi terhadap cara pandang bahwa teknologi boleh mengalahkan kemanusiaan.

Jika industri ini benar-benar kuat, maka ia tidak akan runtuh hanya karena berbagi lebih adil. Namun jika ia goyah, maka sejak awal memang dibangun di atas fondasi eksploitasi.


Indria Febriansyah, S.E., M.H.
Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya