Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa di Aula Pramewswara Kantor Wali Kota Palembang, Sumatera Selatan. (Foto: RMOL)
Ideologi pembangunan Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak lepas dari dinamika politik global yang terus berubah. Dalam konteks tersebut, Indonesia didorong untuk lebih aktif di panggung internasional dan tidak menjadi “sitting duck”.
Hal itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, dalam Workshop Magang Komunikasi Pembangunan yang digelar Nexus Digital Strategy di Aula Pramewswara Kantor Wali Kota Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 4 Mei 2026.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus aktif sehingga tidak menjadi sitting duck,” ujar Teguh.
Menurutnya, dunia saat ini tengah memasuki era multipolar, ditandai dengan munculnya sejumlah kekuatan baru yang ingin memainkan peran strategis di tingkat global.
“Sejumlah kebijakan domestik pemerintahan Prabowo ditujukan untuk memperkuat kuda-kuda Indonesia memasuki tata dunia yang telah berubah itu,” jelasnya.
Ia mencontohkan sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kesejahteraan masyarakat.
“Keunggulan negara bangsa dalam persaingan global ditentukan kualitas SDM yang mampu mengelola sumber daya alam,” kata Teguh.
Selain itu, kebijakan hilirisasi juga dinilai strategis untuk menyerap tenaga kerja sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Teguh mengingatkan, pembangunan ekonomi harus tetap memperhatikan aspek lingkungan hidup.
“Jangan sampai upaya memperkuat ekonomi justru mengabaikan lingkungan. Pembangunan harus berdimensi keberlanjutan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Teguh juga menyoroti pentingnya peran generasi muda, khususnya para content creator, dalam mengomunikasikan kebijakan pembangunan kepada publik.
“Anak muda harus menjadi jembatan komunikasi agar kebijakan pembangunan dipahami dan didukung masyarakat,” ujarnya.
Workshop ini diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan pemuda dan mahasiswa yang aktif sebagai
content creator di Sumatera Selatan. Kegiatan dibuka oleh Wali Kota Palembang yang diwakili Asisten III Setda Kota Palembang Akhmad Bastari.
Program ini merupakan bagian dari upaya Nexus Digital Strategy untuk meningkatkan kapasitas kreator konten daerah dalam mengangkat isu-isu pembangunan.
Selain di Palembang, workshop serupa juga digelar di sejumlah kota lain seperti Medan, Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Balikpapan, dan Bali.
Di akhir acara, Teguh menyerahkan buku berjudul
Reunifikasi Korea: Game Theory yang merupakan hasil disertasinya di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.