Berita

Kolase bendera Iran-AS-Israel. (Foto: Istimewa)

Publika

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

SABTU, 02 MEI 2026 | 04:02 WIB

TEORINYA sederhana: "Jika ada dua pihak berada dalam kepentingan yang sama dan tidak bisa dikompromikan, maka akan terjadi konflik". 

Amerika Serikat (AS) punya kepentingan menguasai geopolitik Timur Tengah. Selain kepentingan politik, juga kepentingan ekonomi. Dua kepentingan yang tidak bisa dipisahkan. 

Sementara Iran mengajukan opsi Amerika harus keluar dari Timur Tengah. Ini salah satu poin paling pokok dalam perundingan Iran dan Amerika di Pakistan beberapa hari ini. Tidak sepakat. Konflik!


Sepuluh poin yang diajukan Iran sebagian tidak mungkin akan bisa dipenuhi Amerika. Sebaliknya, 15 poin yang diajukan oleh Amerika, sebagian tidak bisa dipenuhi oleh Iran. 

Poin-poin yang tidak bisa dipenuhi itu adalah poin-poin krusial dan menjadi kebutuhan fundamental bagi masing-masing pihak. 

Apakah negosiasi akan buntu? Pasti! Sebelum diadakannya perundingan di Pakistan, sudah bisa diprediksi bahwa perundingan akan buntu. Kalau begitu, kenapa diadakan perundingan? Ini pertanyaan paling menarik untuk dijawab.

Perundingan menjadi alasan bagi kedua belah pihak untuk gencatan senjata. Ah, itu maunya Amerika. Stop! Keduanya mau. Kalau Iran gak mau, gencatan senjata tidak terealisasi. 

Dalam dua pekan gencatan senjata, masing-masing pihak menyiapkan diri untuk melakukan perang babak berikutnya. 

Kali ini, perang akan lebih dahsyat. Habis-habisan. Ini menjadi pertaruhan hidup dan mati. Jika Iran kalah, maka akan terjadi transformasi kekuasaan di negeri para mullah ini. Kalau Amerika yang kalah? Struktur geopolitik dan ekonomi dunia akan berubah.

Amerika tidak punya pintu untuk balik badan. Kalau ini dilakukan, pengaruh Amerika akan berangsur surut, lalu menghilang. 

Dolar akan kehilangan kedigdayaannya. Pelan tapi pasti, Amerika akan kehilangan statusnya sebagai polisi dunia. Kekuatan kontrol Amerika melemah dan tak lagi menjadi negara adidaya. Selanjutnya, dunia akan akan mengalami penataan ulang.

Bagi Amerika, No Point to Return. Amerika akan menyerang Iran. Habis-habisan. At all cost

Apapun taruhannya: meski ribuan nyawa prajurit, pengeluaran besar-besaran untuk logistik dan bahkan terjadinya gejolak politik internal karena amburadulnya ekonomi global. Tujuan Amerika satu: "mempertahankan status quo-nya sebagai penguasa dunia". 

Inilah watak penguasa, dimanapun dan kapanpun, akan selalu mempertahankan status quo dengan semua resources yang dimiliki. Penguasa tingkat manapun. Mereka tak ingin lengser keprabon. Amerika tak ingin kehilangan pengaruhnya.

Lalu, jika perang berlanjut, dan semakin dahsyat, apa pengaruhnya bagi dunia, khususnya Indonesia? Krisis!

Dunia akan mengalami krisis. Dimulai dari krisis energi. Ketersediaan minyak terbatas. Jika pun ada, harganya selangit. 

Sejumlah pakar energi memprediksi, jika perang berlanjut, harga minyak mentah bisa tembus 200 dolar AS per barel. Dari harga 65-72 dolar AS per barel, naik ke Harga 115 dolar AS saja, banyak negara babak belur. 

Segala jalur penghematan ditempuh. Peredaran BBM dibatasi, WFH diberlakukan, jam kerja dikurangi. Hampir setiap negara melakukan efisiensi. Banyak negara mengalami problem moneter dan inflasi. 

Belum lagi efek PHK akibat pabrik tak lagi bisa beroperasi. Keadaan ini akan mendorong naiknya jumlah pengangguran dan kemiskinan. 

Lalu, bagaimana jika harga minyak mentah melambung tinggi hingga 200 dolar AS? Anda sulit membayangkan ekonomi dunia, khususnya Indonesia.

Jangan panik! Tentu ini narasi yang harus terus diproduksi untuk meredam potensi gejolak. Negara harus membuat pernyataan seolah baik-baik saja kedepan. Harus! Siapa tahu perang Iran vs Amerika segera selesai. Meski secra teoritis sulit diharapkan. 

Jangan terjebak pada pertanyaan siapa yang akan menjadi pemenang dalam perang antara Iran vs Amerika? Gak penting untuk dijawab saat ini. Tunda dulu membahas siapa pemenangnya. Belum urgent untuk dikaji.

Yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana nasib Indonesia ketika perang Iran vs Amerika ini berlanjut. Sebab, sulit untuk mendukung analisis kalau perang bisa dihentikan dalam jangka pendek ini.

Selamat membayangkan Indonesia untuk hari-hari ke depan. Jawabannya ada di kepala anda semua.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya