Berita

Mojtaba Khamenei (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube BBC)

Dunia

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

JUMAT, 01 MEI 2026 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan keras kepada Amerika Serikat dalam peringatan Hari Teluk Persia. 

Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi nasional, ia menegaskan kawasan tersebut akan memasuki “babak baru” tanpa kehadiran AS.

“Satu-satunya tempat bagi Amerika di Teluk Persia adalah di dasar perairannya,” ujarnya, dikutip dari Times of Israel, Jumat, 1 Mei 2026.


Putra mendiang Ali Khamenei itu juga menekankan bahwa masa depan kawasan Teluk Persia akan terbebas dari pengaruh Amerika. 

Ia menyebut, dengan dukungan dan kekuatan Tuhan, kawasan tersebut akan berkembang menjadi wilayah yang melayani kemajuan, kenyamanan, dan kemakmuran rakyatnya tanpa campur tangan AS.

Selain itu, Mojtaba mengajak negara-negara di kawasan untuk lebih berfokus pada kesejahteraan bersama. 

“Iran dan negara-negara tetangganya memiliki nasib yang sama,” ujarnya. 

Ia menegaskan bahwa pihak asing yang datang dari jauh dengan “niat buruk” tidak memiliki tempat di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Mojtaba juga menegaskan Iran akan terus mempertahankan dan mengembangkan kemampuan teknologinya, mulai dari program nuklir hingga misil balistik. Menurutnya, kemampuan tersebut merupakan bagian dari identitas dan kedaulatan negara yang harus dijaga.

Pernyataan bernada keras ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Situasi semakin kompleks dengan upaya Presiden AS Donald Trump untuk memperluas kesepakatan damai, yang belum menunjukkan hasil signifikan.

Ketegangan juga dipicu oleh posisi strategis Iran yang masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Di sisi lain, Amerika Serikat terus menekan ekspor minyak Iran melalui kebijakan blokade, yang berdampak pada pasar energi global.

Dalam kondisi tersebut, harga minyak dunia sempat melonjak tajam. Kenaikan ini tidak hanya menekan ekonomi global, tetapi juga menambah beban bagi pemerintah AS, terutama menjelang agenda politik penting di dalam negeri.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya