Berita

Ilustrasi. (Foto: bacakoran.co)

Nusantara

Direktur Eksekutif HSI:

Keragaman Budaya Perkuat Posisi Papua di Kancah Nasional dan Global

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 05:47 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Keragaman bahasa etnik di Papua merupakan potensi sekaligus kekayaan budaya yang harus dirawat dan diperkenalkan secara lebih luas kepada khalayak publik.
 
Hal itu disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia Dr. Rasminto dalam paparannya bertajuk “Disrupsi, Budaya, dan Masa Depan Papua” pada acara FGD Komsos TNI dengan tema “Peran Konten Kreator dalam Membangun Citra Positif tentang Papua untuk Mendukung Indonesia Maju” yang  diselenggarakan Kogabwilhan III TNI di Hotel Mercure, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, 29 April 2026.  
 
“Keragaman etnik dan bahasa Papua adalah kekayaan yang luar biasa. Ini bukan hanya identitas lokal, tetapi modal budaya yang dapat memperkuat posisi Papua di tingkat nasional maupun kancah global,” kata Rasminto.
 

 
Selain bahasa dan etnik, ia juga menyoroti sistem politik tradisional Papua yang dinilai memperkaya khazanah pengetahuan dan menunjukkan keunikan peradaban Papua. 

Rasminto menyebut sedikitnya terdapat empat tipe kepemimpinan tradisional di Papua, yakni big man atau pria berwibawa, chiefdom atau penghulu/ondoafi, kerajaan, dan mixed type atau tipe campuran. 

Menurut dia, sistem kepemimpinan tradisional itu menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki pengetahuan sosial-politik yang panjang dan berakar. Di dalamnya terdapat nilai kewibawaan, musyawarah, penghormatan terhadap adat, solidaritas komunitas, serta mekanisme lokal dalam menjaga harmoni sosial.
 
“Di Papua, budaya bukan hanya soal tari, musik, atau pakaian adat. Di dalam budaya Papua ada sistem pengetahuan, nilai kepemimpinan, penghormatan terhadap alam, solidaritas sosial, dan cara masyarakat menyelesaikan persoalan,” ujar Rasminto.
 
Karena itu, ia menilai konten kreator Papua memiliki peran strategis untuk membawa kekayaan budaya tersebut ke ruang digital. Konten kreator, kata dia, dapat menjadi pencerita, duta digital, pelestari budaya, sekaligus penggerak kebanggaan generasi muda. 

Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI) ini mencontohkan, konten kreator dapat mengangkat kisah adat, tokoh lokal, bahasa daerah, musik tradisional, tarian, ukiran, kuliner, arsitektur kampung, kehidupan masyarakat pesisir dan pegunungan, praktik gotong royong, hingga cerita sukses anak muda Papua di bidang pendidikan, olahraga, seni, dan ekonomi kreatif.
 
“Konten kreator adalah penjaga persepsi publik. Sebab, dapat mengubah stigma menjadi kebanggaan, konflik dapat diselesaikan menjadi harapan, dan marginalisasi menjadi pengakuan,” jelasnya.
 
Meski begitu, Rasminto mengingatkan bahwa membangun citra positif Papua bukan berarti menutup mata terhadap persoalan yang masih terjadi. Sambungnya, Papua memang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kekerasan, ketimpangan, trauma sosial, konflik politik, hingga keterbatasan layanan dasar di sejumlah wilayah. 

Namun, ia menegaskan Papua tidak boleh direduksi hanya sebagai masalah. Narasi yang sehat, menurutnya, harus tetap jujur membaca luka, tetapi juga mampu menampilkan harapan, daya hidup masyarakat, dan kekayaan budaya Papua.
 
“Citra positif bukan propaganda. Citra positif harus dibangun dengan kejujuran, data, kreativitas, dan martabat budaya,” tegasnya.
 
Untuk itu, Rasminto mendorong penguatan literasi digital bagi kreator muda Papua agar mampu membedakan fakta, data, hoaks, propaganda, dan manipulasi algoritma. Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, TNI, kampus, komunitas adat, media, pelaku ekonomi kreatif, dan organisasi masyarakat sipil. 

Masih kata Rasminto, kolaborasi tersebut penting agar produksi konten tentang Papua tidak berjalan sporadis, tetapi menjadi gerakan yang sistematis, konsisten, dan berkelanjutan.
 
“Perlu gerakan konten positif Papua yang tidak hanya reaktif ketika stigma muncul. Gerakan ini harus menjadi kerja bersama untuk menghadirkan Papua sebagai ruang budaya, kreativitas, dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya