Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Nusantara

Akademisi:

Papua Harus Dikenal Lewat Budaya dan Kontribusinya bagi Indonesia

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 04:35 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia Dr. Rasminto menilai kekayaan budaya Papua harus menjadi kekuatan utama dalam membangun citra positif Papua di ruang digital. 

Menurutnya, Papua tidak boleh terus-menerus dipahami hanya dari sudut konflik, kekerasan, separatisme, demonstrasi, dan stigma.

Hal itu disampaikan Rasminto dalam paparannya bertajuk “Disrupsi, Budaya, dan Masa Depan Papua” pada acara FGD Komsos TNI dengan tema “Peran Konten Kreator dalam Membangun Citra Positif tentang Papua untuk Mendukung Indonesia Maju” yang  diselenggarakan Kogabwilhan III TNI di Hotel Mercure, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu, 29 April 2026.


“Papua hari ini berada di persimpangan antara disrupsi digital, perubahan sosial, dan kebutuhan menjaga identitas budaya. Perkembangan teknologi, telah membuka ruang baru bagi siapa pun untuk berbicara, menafsirkan, bahkan membangun narasi tentang Tanah Papua,” kata Rasminto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Namun, ruang digital itu juga membawa tantangan serius. Lanjut Rasminto, isu pembunuhan, kekerasan, konflik, separatisme, demonstrasi, hingga stigma tentang Papua kerap mengisi percakapan di dunia maya. 

Akibatnya, wajah Papua yang kaya budaya dan memiliki kekuatan sosial sering kali tenggelam dalam narasi negatif yang berulang.

“Papua tidak boleh hanya dikenal karena isu konfliknya. Papua harus dikenal karena kebudayaannya, kreativitasnya, kekuatan masyarakatnya, dan kontribusinya bagi Indonesia,” jelasnya.

Founder Human Studies Institute (HSI) ini menegaskan bahwa disrupsi digital membuat informasi menyebar tanpa batas. 

“Siapa pun kini dapat menjadi media, sementara tren viral mampu membentuk opini publik dengan cepat. Di sisi lain, batas antara fakta, data, opini, dan hoax sering menjadi samar,” tukasnya.

Karena itu, kata Rasminto, perebutan narasi tentang Papua menjadi penting. Jika ruang digital hanya dipenuhi isu konflik dan kekerasan, publik akan melihat Papua secara sempit. 

Sebaliknya, jika ruang digital diisi dengan narasi budaya, pendidikan, kreativitas pemuda, ekonomi kreatif, dan ketangguhan masyarakatnya, Papua akan tampil sebagai ruang peradaban dan masa depan Indonesia.

“Yang diperebutkan di era digital bukan hanya perhatian publik, tetapi juga makna tentang Papua. Jika makna Papua terus dikuasai stigma, maka publik akan melihat Papua dari jarak prasangka,” ujarnya.

Masih kata Rasminto, budaya harus ditempatkan sebagai kekuatan dan fondasi masa depan Papua. 

Budaya, menurutnya, bukan sekadar warisan masa lalu atau pelengkap seremoni, tetapi modal sosial, sumber identitas, perekat solidaritas, dan kekuatan strategis untuk membangun masa depan.

”Papua memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari wilayah adat, keragaman etnik, bahasa, seni, musik, tarian, arsitektur, sistem kekerabatan, hingga tradisi kepemimpinan lokal. Apalagi terdapat keberagaman budaya yang ditunjukan dengan adanya 262 bahasa di Tanah Papua yang identik dengan keragaman etnik bangsa,” tandasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya