Berita

Ilustrasi (Artifficial Inteligence)

Tekno

Dari Hype ke Realita: AI Kian Jadi Alat Biasa dalam Dunia Kerja

RABU, 29 APRIL 2026 | 15:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence selama beberapa tahun terakhir kerap digambarkan secara dramatis—mulai dari ancaman terhadap pekerjaan manusia hingga potensi mengubah peradaban. Namun, dalam praktik sehari-hari, gambaran tersebut mulai terlihat berlebihan.

Di banyak lingkungan kerja, AI justru semakin terasa biasa. Ia tidak lagi diposisikan sebagai teknologi revolusioner yang mengubah segalanya secara instan, melainkan sebagai alat tambahan yang membantu pekerjaan—mirip dengan berbagai inovasi sebelumnya.

Sejarah menunjukkan pola yang berulang. Ketika teknologi seperti kereta api, listrik, hingga telepon pertama kali diperkenalkan, respons publik dipenuhi harapan besar sekaligus kekhawatiran. Namun seiring waktu, teknologi-teknologi tersebut menjadi bagian normal dari kehidupan. AI kini tampaknya mulai mengikuti jalur yang sama.


Meski begitu, narasi bahwa AI adalah teknologi yang “berbeda” masih kuat, terutama dari para pemimpinnya. 

CEO Anthropic, Dario Amodei, membayangkan masa depan sebagai “negara para jenius di pusat data”. Sementara CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut kapasitas intelektual dunia bisa lebih banyak berada di pusat data dibandingkan manusia. Bahkan Elon Musk menilai AI dan robot berpotensi memenuhi seluruh kebutuhan manusia.

Pernyataan-pernyataan tersebut memperkuat kesan bahwa AI akan membawa perubahan besar dalam waktu dekat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.

Di sebuah firma arsitektur di London, misalnya, AI digunakan untuk membantu proses desain. Namun para pekerja melihatnya sebagai evolusi alami dari teknologi yang sudah ada, bukan lompatan besar yang sepenuhnya mengubah cara kerja. Salah satu arsitek menyamakan AI dengan transisi dari gambar tangan ke perangkat lunak desain seperti AutoCAD.

“Ini hanyalah kelanjutan dari perubahan sebelumnya,” ujar Dario dikutip dari France24, Rabu 29 April 2026.

Pengalaman serupa juga muncul dalam uji coba langsung. Seorang direktur digital membandingkan tim yang menggunakan AI dengan yang tidak, dan tidak menemukan perbedaan efisiensi yang signifikan. AI memang mempercepat tahap awal pekerjaan, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan untuk meninjau, memilih, dan menyempurnakan hasil.

“Tidak ada keajaiban dalam alat-alat ini,” lanjutnya.

Keterbatasan AI pun masih cukup jelas. Dalam beberapa kasus, teknologi ini belum mampu memahami konteks secara mendalam atau menghasilkan output yang konsisten. Risiko yang muncul juga lebih bersifat praktis—seperti kesalahan desain atau keputusan yang berpotensi menimbulkan masalah hukum—ketimbang ancaman besar seperti yang sering digambarkan.

Pengamat teknologi menilai kondisi ini sebagai bagian dari siklus yang wajar. 

Tom Standage dari The Economist menjelaskan bahwa hampir semua teknologi besar mengalami fase “hype” sebelum akhirnya dipahami secara lebih realistis. Ia mencontohkan bagaimana telegraf pada abad ke-19 pernah dianggap akan membawa perdamaian dunia, namun juga sempat dicurigai sebagai penipuan.

Menurutnya, dampak terbesar teknologi justru sering datang dari cara manusia menggunakannya, bukan dari teknologinya itu sendiri.

Meski demikian, AI tetap memiliki satu perbedaan penting dibandingkan teknologi sebelumnya: kekhawatiran terhadap potensi “kehendak” atau otonomi. Sebagian orang mulai mempertanyakan apakah AI bisa bertindak di luar kendali manusia—kekhawatiran yang tidak pernah muncul pada teknologi seperti listrik atau kereta api.

Pada akhirnya, AI saat ini berada di antara dua realitas. Di satu sisi, ia dipenuhi janji besar tentang masa depan. Di sisi lain, dalam penggunaan sehari-hari, ia masih berfungsi sebagai alat yang terbatas.

Seperti revolusi teknologi sebelumnya, dampak sesungguhnya kemungkinan baru akan terlihat dalam jangka panjang. Namun untuk saat ini, bagi banyak pengguna, AI bukan lagi sesuatu yang menakutkan atau luar biasa—melainkan sekadar alat yang kadang membantu, dan kadang juga belum memenuhi ekspektasi.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya