Berita

Kendaraan taksi Green SM yang terlibat kecelakaan dengan Kereta Rel Listrik (KRL) pada Selasa malam, 27 April 2026. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Publika

Tak Ada Permintaan Maaf Pihak Taksi Green SM

RABU, 29 APRIL 2026 | 15:00 WIB

KITA update kisah tragis tabrakan maut kereta api vs commuter line. Netizen menyayangkan, tak ada permintaan maaf dari perusahaan taksi. 

Tidak ada kata “maaf”. Di negeri yang gemar berpidato tentang empati dan tanggung jawab, justru kata paling sederhana itu hilang ketika paling dibutuhkan. 

Lima belas orang mati, 84 terluka, dan dari pihak Green SM Indonesia hanya mengalir kalimat-kalimat steril. Rapi, aman, dan kosong. Seolah tragedi ini hanyalah gangguan layanan, bukan kehilangan manusia. Seolah nyawa bisa diganti dengan diksi.


Malam itu, Senin 27 April 2026, di Stasiun Bekasi Timur, maut datang tanpa aba-aba. 

KA Argo Bromo Anggrek melaju dari Gambir dan menghantam KRL Commuter Line yang terhenti di jalur yang sama. 

Benturan itu bukan sekadar tabrakan, melainkan penghancuran. Gerbong ringsek, tubuh terjepit, jeritan yang tak sempat selesai. 

Lima belas orang tidak pulang. Delapan puluh empat lainnya pulang dengan luka, fisik dan batin, yang mungkin tak pernah benar-benar sembuh.

Semua berawal dari satu taksi listrik Green SM yang mogok di perlintasan sebidang tidak resmi dekat Bulak Kapal. 

Kendaraan itu tertemper KRL, mengacaukan sistem persinyalan. Kereta berhenti di jalur yang seharusnya aman. 

Lalu Argo Bromo datang dari belakang, membawa kecepatan yang tidak sempat ditarik kembali. Satu mesin mati, dan puluhan manusia ikut dimatikan oleh sistem yang sudah lama dibiarkan setengah hidup.

Di sinilah ironi paling telanjang. Negeri ini tidak kekurangan anggaran, tidak kekurangan pejabat, tidak kekurangan slogan keselamatan. Yang kurang hanya satu, rasa malu.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) setidaknya masih tahu cara menundukkan kepala dan meminta maaf. 

Tapi perusahaan taksi yang menjadi pemicu awal justru berdiri tegak di balik kalimat PR. Seolah tanggung jawab bisa disubkontrakkan ke kata “investigasi”. Barangkali di negeri ini, meminta maaf dianggap lebih mahal dari membayar konsultan krisis.

Lalu datanglah parade kepedulian. Presiden Prabowo Subianto hadir di RSUD Kota Bekasi, menggenggam tangan korban, menjanjikan investigasi dan perbaikan 1.800 perlintasan dengan anggaran Rp 4 triliun. 

Angka yang besar, janji yang megah, dan seperti biasa, datang setelah darah mengering di rel. Karena di republik ini, kebijakan sering lahir bukan dari perencanaan, tapi dari kematian.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan santunan Rp50 juta per korban meninggal dan menanggung biaya perawatan. Sebuah angka yang terdengar tegas, seolah negara akhirnya hadir. 

Tapi di balik itu, ada pertanyaan yang lebih dingin: apakah nilai nyawa manusia kini memang ditetapkan setelah mereka mati?

Fakta sudah cukup kejam. Perlintasan tanpa palang tetap dibiarkan bertahun-tahun. Tapi, anggaran bisa tiba-tiba tersedia setelah tragedi. 

Sistem keselamatan dibiarkan rapuh, tapi pencitraan selalu kokoh. Perusahaan bisa lalai, tapi tetap fasih bicara “komitmen”. Pejabat bisa datang, tapi selalu terlambat.

Bekasi Timur malam itu bukan sekadar lokasi kecelakaan. Ia adalah panggung di mana semua kegagalan bertemu. Kelalaian swasta, pembiaran negara, dan budaya birokrasi yang lebih takut pada citra dari pada kehilangan nyawa.

Korban-korban itu bukan statistik. Mereka adalah orang-orang yang pagi harinya masih hidup biasa, berangkat kerja, bercanda, merencanakan hari esok. 

Negara gagal menjaga mereka, sistem gagal melindungi mereka, dan perusahaan gagal sekadar meminta maaf kepada mereka.

Sudah 14 korban jiwa. Tapi kata “maaf” tetap tidak pernah tiba. Mungkin itulah tragedi paling dalam. 

Bukan hanya kita kehilangan manusia, tapi juga kehilangan rasa bersalah. Di negeri ini, tampaknya, yang paling sulit bukan mencegah kematian, melainkan mengakui kesalahan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya