Berita

Ilustrasi/Istimewa

Nusantara

Memaknai 1 Mei: Sejarah Berdarah di Balik Tanggal Merah Hari Buruh

RABU, 29 APRIL 2026 | 09:51 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Setiap tanggal 1 Mei, kalender kita ditandai dengan warna merah sebagai hari libur nasional untuk memperingati Hari Buruh. Bagi sebagian masyarakat, momen ini mungkin sekadar dianggap sebagai hari libur biasa untuk beristirahat.

Namun, di balik keistimewaan tanggal merah tersebut, tersimpan sejarah panjang dan penuh pengorbanan dari gerakan pekerja di seluruh dunia.

Peringatan ini bukanlah sekadar simbol kosong, melainkan buah dari perjuangan kolektif para pekerja sejak abad ke-19 yang gigih menuntut keadilan, jam kerja yang manusiawi, serta perlindungan keselamatan kerja. 


Di Indonesia sendiri, ketetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013. Melalui kebijakan ini, sebagian besar aktivitas perkantoran, instansi pendidikan, hingga layanan publik diliburkan secara serentak setiap tahunnya.

Lahir dari Penindasan Era Revolusi Industri

Akar sejarah Hari Buruh dapat ditarik kembali ke era Revolusi Industri. Pada masa itu, para pekerja dipaksa tunduk pada sistem kerja yang sangat tidak manusiawi.

Mereka harus bekerja selama 12 hingga 16 jam per hari dengan upah yang sangat minim dan tanpa adanya jaminan keselamatan sedikit pun. Penindasan sistematis ini akhirnya menyulut perlawanan besar.

Puncak pemberontakan terjadi pada 1 Mei 1886, di mana lebih dari 500.000 pekerja di Amerika Serikat turun ke jalan menggelar aksi mogok massal, dengan pusat pergerakan berada di kota Chicago.

Sayangnya, aksi tersebut berujung tragedi pada 4 Mei 1886 dalam insiden yang dikenal sebagai Haymarket Affair. Demonstrasi damai berubah menjadi kekacauan berdarah akibat bentrokan dengan aparat, yang diperparah dengan ledakan bom dan tembakan.

Banyak nyawa buruh melayang, sementara para aktivis ditangkap dan bahkan dijatuhi hukuman mati yang memicu kontroversi.

Demi menghormati pengorbanan tersebut, organisasi Second International pada 1889 meresmikan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.

Kebangkitan Hari Buruh di Tanah Air

Kisah peringatan Hari Buruh di Indonesia pun mengalami pasang surut. Meski telah dirayakan sejak zaman kolonial, peringatan ini sempat dibungkam dan tidak dirayakan secara luas di bawah rezim Orde Baru.

Angin segar baru berembus pasca-reformasi 1998, di mana kebebasan berserikat kembali dijamin oleh negara.

Kini, Hari Buruh di Indonesia berfungsi ganda: sebagai momen refleksi sejarah dan sebagai panggung utama bagi para pekerja untuk menyuarakan aspirasi menuntut kesejahteraan.

Lebih dari itu, tanggal 1 Mei menjadi momentum pengingat bagi kita semua bahwa setiap profesi adalah motor penggerak ekonomi, dan setiap keringat pekerja layak untuk dihormati serta dihargai.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya