Berita

Bendera UEA berkibar di ibu kota Abu Dhabi (dok. AFP)

Bisnis

UEA Tinggalkan OPEC: Manuver Energi atau Sinyal Retaknya Aliansi Minyak?

RABU, 29 APRIL 2026 | 07:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan mengejutkan datang dari Uni Emirat Arab (UEA) yang menyatakan akan keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mulai 1 Mei 2026. 

Langkah ini sekaligus menandai hengkangnya UEA dari aliansi yang lebih luas, yaitu OPEC+, yang selama ini melibatkan negara-negara produsen minyak utama, termasuk Rusia.

Pengumuman resmi disampaikan melalui kantor berita negara, Emirates News Agency. Pemerintah UEA menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang di sektor energi. 


“Keputusan ini mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Associated Press, Rabu 29 April 2026.

Wacana keluarnya UEA dari OPEC sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini kerap menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan kuota produksi minyak yang dinilai terlalu membatasi. Dengan kapasitas produksi yang terus meningkat, pembatasan tersebut dianggap menghambat potensi pendapatan negara.

Di luar faktor ekonomi, dinamika politik kawasan juga ikut memengaruhi. Hubungan UEA dengan Arab Saudi - produsen minyak terbesar di OPEC - dikabarkan mengalami ketegangan akibat perbedaan kepentingan, termasuk dalam menyikapi konflik regional yang melibatkan Iran.

UEA sendiri merupakan anggota lama OPEC. Negara ini pertama kali bergabung melalui Abu Dhabi pada 1967, sebelum resmi menjadi federasi pada 1971. Hingga sebelum memanasnya konflik kawasan pada Februari lalu, produksi minyak mentah UEA berada di kisaran 3,4 juta barel per hari.

Namun, di bawah skema OPEC, kuota produksi UEA dibatasi sekitar 3,2 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas maksimal yang diperkirakan mendekati 5 juta barel per hari. Dengan keluar dari OPEC, UEA memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan produksi sesuai kepentingan nasionalnya.

Meski demikian, dampak langsung terhadap pasar energi global diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek. Hal ini karena distribusi minyak dunia masih terganggu, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang belum sepenuhnya pulih akibat konflik regional. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk selama ini bergantung pada jalur tersebut.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Marak OTT Kepala Daerah, PKB Minta Evaluasi Desain Pilkada

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:25

Program Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 288.865 Sekolah

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:20

8 Dekade BNI Tumbuh Bersama Indonesia dalam Semangat Swadharma Bhakti Nagara

Jumat, 03 Juli 2026 | 16:00

10 Biksu Thailand Tewas Tertabrak Pikap yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:47

Kemandirian Energi, Masa Depan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:42

UMiMAX Pertamina Bantu Masyarakat Rentan Kembangkan Usaha

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:30

Lewat X-ray, Bea Cukai Bongkar Penyelundupan 3,37 Ton Narkotika

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:24

13 Negara Pastikan Tempat di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Aktivis Tibet Tewas Bakar Diri di Dekat Markas PBB New York

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:23

Bupati Langkat Syah Afandin Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Jumat, 03 Juli 2026 | 15:11

Selengkapnya