Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Ekonomi Global dan Tantangan bagi Indonesia

RABU, 29 APRIL 2026 | 06:27 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

EKONOMI global tengah mengalami sejarah krisis  energi yang terparah dan dahsyat. Di tengah krisis energi global yang dipicu penutupan Selat Hormuz, laporan Eye on the Market--JP Morgan Asset Management, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua dari 52 negara terbesar konsumen energi dunia yang secara kolektif mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global.

Laporan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 tersebut dirilis 21 Maret 2026, ditulis oleh Michael Cembalest, Chief Investment Strategist JP Morgan Asset Management. 

Posisi Indonesia hanya berada di bawah Afrika Selatan, dan melampaui Tiongkok serta Amerika Serikat.


JP Morgan menggunakan indikator total insulation factor, ukuran komposit seberapa besar suatu negara mengandalkan sumber energi domestik, mencakup gas bumi, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir. Indonesia mencatat skor 77 persen, di bawah Afrika Selatan (79 persen), namun di atas Tiongkok (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen).

Total insulation factor adalah merupakan indikator yang mengukur seberapa besar suatu negara bergantung pada sumber energi domestik, seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir, sehingga lebih terlindungi dari gangguan pasokan dan lonjakan harga energi global, khususnya minyak dan gas. 

Laporan secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang relatif lebih terlindungi atau diuntungkan dari dampak guncangan energi global berkat produksi batu bara domestik yang besar.

Batu bara menyumbang 48 persen konsumsi energi final Indonesia, disusul gas bumi domestik 22 persen, dan energi terbarukan 7 persen. Yang tak kalah penting: impor energi Indonesia melalui Selat Hormuz hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi energi nasional. 

Persentase itu jauh di bawah Korea Selatan (33 persen), Taiwan (27 persen), atau Thailand (27 persen).

Indonesia Titik Terang Dunia

Dalam rangkaian agenda IMF Spring Meetings 2026 yang digelar di Amerika Serikat, 13-18 April 2026, Indonesia kembali disebut-sebut sebagai salah satu negara yang menjadi titik terang (bright spot) dalam perekonomian global.

Hal ini disampaikan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva.

Indonesia diakui oleh IMF sebagai titik terang (bright spot) ekonomi global pada 2026 berkat ketahanan fundamental, pertumbuhan stabil di atas 5 persen, dan inflasi rendah di tengah ketidakpastian dunia. 

Fundamental yang kuat, yang dikonfirmasi oleh lembaga pemeringkat kredit, membuat Indonesia dinilai sebagai tempat yang aman untuk investasi.

Fokus pada perbaikan sosial dan ekonomi, seperti pendidikan dan nutrisi, menjadi nilai tambah dalam penilaian global. 

Pengakuan ini menegaskan posisi Indonesia yang tangguh di kancah internasional dan siap menjadi mitra setara di tengah situasi ekonomi dunia 

Kurs Rupiah Undervalued

Dalam ekonomi global ada 2 hal yang harus diperhatikan, yaitu kurs dan suku bunga. 

Hal yang dapat kita lakukan adalah teknik untuk menyesuaikan dengan dinamika yang ada. Itulah yang menjadi seni tersendiri dalam ekonomi. 

Saat ini berdasarkan informasi terbaru per April 2026, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan pejabat BI lainnya telah merespons pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level Rp17.300 per Dolar AS. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar Rupiah saat ini undervalued (terlalu rendah) dibandingkan dengan fundamentalnya.

BI meyakini secara fundamental nilai tukar rupiah akan stabil dan bakal menguat, didorong oleh fundamental perekonomian Indonesia yang membaik.

Bank Indonesia menyatakan siaga di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak bergejolak terlalu jauh.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap Rupiah disebabkan oleh faktor gejolak global.

BI berkomitmen untuk terus berada di pasar (triple intervention) guna memastikan stabilitas nilai tukar dan mengelola dampak gejolak global terhadap mata uang Garuda.

Sejarah Rupiah Terlemah

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus tertekan lantaran pemerintah masih akan menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di tengah harga minyak mentah yang terus meroket. 

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu menyebut pemerintah tidak bisa membuat seluruh kondisi menjadi sempurna di tengah konflik Timur Tengah. Ketika itu terjadi, pemerintah harus rela membayar biaya lebih dalam pos anggaran lain. 

“Tidak bisa kalau ada tekanan, you nggak bisa you mau perfect saja gitu. Artinya ya Anda membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain,” kata Darmin ditemui di sela Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur, Rabu, 22 April 2026. 

“Jadi itu adalah cost yang harus dipikul karena anda [pemerintah] tidak mau mengadjust di sini BBM subsidi]. Harus ada adjustment supaya yang ke sana semua dia ke nilai tukar.”

Tren pelemahan rupiah yang berlangsung sejak awal tahun, membuat ruang pelonggaran suku bunga oleh otoritas moneter kian sempit. 

Sejak awal tahun hingga Senin, 20 April 2026, rupiah telah tergerus sebanyak 2,81 persen, menempati posisi kedua terlemah di kawasan. Posisi rupiah ini hanya lebih baik dari Rupee India yang melemah 3,28 persen. Kondisi rupiah juga masih terdepresiasi 1,08 persen sepanjang April.

Di sisi lain, meski harga minyak tercatat turun, namun harganya yang masih berada di atas 100 Dolar AS per barel berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Sebab, dalam asumsi APBN harga minyak berada di kisaran 70 Dolar AS per barel.

Rupiah Melemah dan Noise

Purbaya Bantah Rupiah Melemah Gara-gara Ekonomi RI Bermasalah. Menkeu Purbaya menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bukan cerminan memburuknya kondisi ekonomi domestik.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar  rupiah terhadap  dolar Amerika Serikat (AS) bukan cerminan memburuknya kondisi ekonomi domestik. 

Pernyataan itu disampaikan setelah kurs rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS pada Kamis, 23 April 2026.

“Untuk saya sih (pelemahan rupiah) ini bukan tanda pemburukan, dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat, hanya gerakan nilai tukarnya beda kan,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.

Purbaya menjelaskan tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor global serta sentimen pasar yang membentuk ekspektasi negatif terhadap perekonomian Indonesia.

“Ini mungkin juga terjadi kebisingan yang seolah-olah menggambarkan perekonomian kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan tiga bulan waktu itu kan, berarti dua bulan lagi, Juni, Juli, tapi keadaannya tidak seperti itu,” jelasnya.

Ia memastikan fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat dan pemerintah akan terus memperbaiki berbagai kendala struktural.

Lebih lanjut, Purbaya menyerahkan langkah stabilisasi nilai tukar kepada Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

“Kita serahkan ini ke pengelola-pengelolanya, regulatornya yang kita anggap mampu untuk mengendalikan,” katanya.

"Saya bilang tidak begitu. Ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada.Tetapi dalam jangka pendek kan ada sentimen negatif ketika itu. Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju level yang lebih lemah lagi," pungkas Purbaya.

Kepemimpinan dan Partisipasi Rakyat

Kemajuan ekonomi tidak hanya dilihat dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya saja, melainkan juga produktivitas tenaga kerja, inovasi, alokasi keuangan oleh kelas menengah, dan kemampuan negara untuk menentukan nasibnya sendiri.

Bagaimana Indonesia dapat keluar dari masa penjajahan dan memerdekakan diri karena orang-orang terbaiklah yang berjuang di garda terdepan. 

Saat ini, Indonesia dapat maju dan keluar dari jerat kemiskinan jika orang-orang terbaik bersedia untuk terlibat menjadi pemangku kebijakan dan tidak sekadar berpangku tangan. Hal ini tentu membutuhkan sebuah pengorbanan.


*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya