Berita

Ilustrasi. (Foto: Humas BGN)

Nusantara

Profesi Ahli Gizi Makin Laku Imbas Program MBG

RABU, 29 APRIL 2026 | 05:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga memicu lonjakan kebutuhan tenaga profesional di bidang gizi. 

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat, kebutuhan ahli gizi kini meningkat tajam seiring ekspansi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa setiap SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi untuk memastikan kualitas dan komposisi makanan yang disajikan sesuai standar. 


“Setiap SPPG harus ada ahli gizi, karena yang kita tetapkan itu bukan menu nasional, tetapi standar komposisi gizi. Jadi harus ada yang meramu sesuai potensi lokal,” ujar Dadan di Makassar, dikutip Selasa malam, 28 April 2026. 

Dengan jumlah SPPG yang telah mencapai puluhan ribu unit, kebutuhan tenaga gizi pun melonjak signifikan. Setiap unit membutuhkan setidaknya satu tenaga ahli, belum termasuk tim pendukung lain di bidang pengolahan pangan dan pengawasan kualitas. Kondisi ini membuka peluang besar bagi tenaga kerja di sektor kesehatan dan pangan.

Dadan mengungkapkan bahwa profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang diminati kini justru menjadi salah satu yang paling dicari. 

“Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar,” jelasnya.

Tidak hanya lulusan gizi murni, BGN juga membuka ruang bagi tenaga dengan latar belakang lain yang relevan, seperti kesehatan masyarakat, teknologi pangan, pengolahan makanan, hingga keamanan pangan. 

Hal ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM sekaligus menjaga kualitas layanan di setiap SPPG.

Menurut Dadan, keberadaan tenaga ahli gizi menjadi kunci dalam keberhasilan program MBG, terutama karena pendekatan yang digunakan berbasis potensi lokal. 

Setiap daerah memiliki karakteristik bahan pangan dan pola konsumsi yang berbeda, sehingga dibutuhkan peran ahli untuk menyusun menu yang tepat dan seimbang.

Selain membuka peluang kerja baru, lonjakan kebutuhan SDM ini juga mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum dan kapasitas pendidikan di bidang gizi dan pangan. Program MBG dinilai dapat menjadi momentum kebangkitan sektor pendidikan vokasi dan profesi di bidang tersebut.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya