Berita

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky (Foto: Youtube Sindonews)

Dunia

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

JUMAT, 24 APRIL 2026 | 15:44 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai tidak semata terkait isu nuklir maupun rivalitas geopolitik, melainkan juga sarat kepentingan ekonomi, khususnya menjaga harga energi dan memainkan volatilitas pasar global.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky dalam podcast To The Point Aja di kanal Youtube Sindonews mengatakan bahwa sejak awal Presiden AS, Donald Trump memiliki orientasi kuat untuk mendorong harga migas tetap tinggi demi menopang industri energi Amerika Serikat. 

“Trump pro terhadap yang namanya harga energi naik. Ini dari pertama kali dia masuk ke gelanggang politik calon presiden di Konvensi Partai Republik tahun 2013-2014,” ujar Yanuar, seperti dilihat Jumat, 24 April 2026.


Menurutnya, kepentingan itu berkaitan dengan dorongan memulihkan sektor migas AS sekaligus memenuhi ekspektasi para penyokong politik dari industri energi dan hedge fund.

Dalam analisanya, lonjakan harga minyak yang sempat menembus 120 dolar per barel juga disebut bukan murni dipicu kebutuhan riil pasar, melainkan ada spekulasi besar di pasar komoditas yang ikut mendongkrak harga. 

"Berdasarkan otoritas pengawas bursa komoditas di Amerika Serikat terjadi peningkatan 8.000 kali kontrak yang dilakukan oleh hedge fund,” kata dia. 

Dikatakan bahwa konflik Iran ikut dipakai sebagai instrumen menggiring sentimen pasar dan membuka ruang keuntungan bagi pemain finansial.

Ia bahkan menilai eskalasi perang tidak diarahkan menuju konflik besar, melainkan dipelihara sebagai alat menjaga gejolak harga energi. 

“Perang ini akan dipelihara dari sudut pandang volatility. Bukan perang yang besar,” tegasnya. 

Dalam skema itu, isu perang, ancaman blokade, hingga drama harga minyak dinilai menjadi bagian dari permainan yang saling terkait.

Yanuar juga menyebut AS pada akhirnya tidak akan membiarkan harga minyak terlalu tinggi karena berisiko menghantam ekonomi domestiknya sendiri. 

“Amerika Serikat tidak mungkin membiarkan inflasinya di atas 4,5. Artinya harga minyak itu tidak mungkin sampai 120,” ujarnya. 

Karena itu, dia memperkirakan harga minyak akan dijaga di rentang 80 hingga 100 dolar per barel.

"Jadi, kalau analisa saya, harga minyak tidak mungkin di atas 100. Berdasarkan analisa itu. Itu kenapa setiap di atas 100, selalu diturunin balik," pungkasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya